Prospek kebijakan moneter ketat dari The Fed semakin menguat karena harga energi yang lebih tinggi jelas telah memperlambat kemajuan disinflasi
Jakarta (KABARIN) - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini melemah menjadi Rp17.668 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.597 per dolar AS.
Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah dipicu meningkatnya risiko inflasi di Amerika Serikat (AS) akibat kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut membuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama semakin menguat.
“Prospek kebijakan moneter ketat dari The Fed semakin menguat karena harga energi yang lebih tinggi jelas telah memperlambat kemajuan disinflasi,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.
Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik juga turut menekan pasar. Perkembangan konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan AS–Iran dan serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk, memicu kekhawatiran eskalasi yang lebih luas.
Di sisi lain, pembicaraan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping juga disebut belum menghasilkan terobosan terkait konflik tersebut, sehingga menambah ketidakpastian pasar global.
Sentimen domestik turut memengaruhi pergerakan rupiah setelah pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyinggung bahwa sebagian masyarakat di daerah tidak menggunakan dolar AS dalam aktivitas sehari-hari, sehingga dampaknya terhadap ekonomi riil dinilai tidak terlalu langsung.
Sementara itu, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga tercatat melemah ke level Rp17.666 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.496 per dolar AS.
Sumber: ANTARA