Celios Ingatkan Risiko PHK Akibat Rupiah Melemah Harus Diantisipasi

waktu baca 3 menit

Jadi saya kira ke depan risiko PHK, tenaga kerja terutama di industri-industri manufaktur ini harus segera diantisipasi, dimitigasi dengan berbagai kebijakan

Jakarta (KABARIN) - Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai pemerintah perlu segera menyiapkan langkah antisipasi untuk mencegah risiko pemutusan hubungan kerja atau PHK akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan tekanan kurs rupiah berpotensi memukul sektor industri, terutama manufaktur yang masih bergantung pada impor bahan baku.

Pada perdagangan Senin pagi, nilai tukar rupiah tercatat melemah 33 poin atau 0,19 persen menjadi Rp17.630 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.597.

“Jadi saya kira ke depan risiko PHK, tenaga kerja terutama di industri-industri manufaktur ini harus segera diantisipasi, dimitigasi dengan berbagai kebijakan,” kata Bhima di Jakarta, Senin.

Menurut dia, pelemahan rupiah akan berdampak pada biaya impor di berbagai sektor seperti elektronik, otomotif, pertanian, hingga farmasi.

Kondisi tersebut membuat banyak pelaku usaha mulai melakukan efisiensi, mulai dari mengecilkan ukuran produk, mengurangi kapasitas produksi, hingga menekan volume produksi demi menjaga harga tetap stabil di pasar.

“Tujuannya adalah agar tidak ada shock harga yang berlebihan kepada konsumen, jadi bisa menjaga margin. Tapi pertanyaannya sampai berapa lama karena kalau rupiahnya terus persisten melemah, banyak pelaku usaha itu pun juga akan kesulitan melakukan penyesuaian harga,” ujar Bhima.

Ia mengingatkan efisiensi paling berisiko terjadi ketika perusahaan mulai memangkas kapasitas produksi akibat tingginya biaya operasional. Dalam situasi itu, tenaga kerja dinilai menjadi sektor yang paling rentan terdampak.

Bhima menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah strategis agar sektor padat karya dan manufaktur tidak mengalami gelombang PHK.

“Karena khawatir sektor formalnya semakin menciut, pekerjanya akan jadi pengangguran baru atau menjadi pekerja informal yang sebenarnya kualitasnya rendah,” katanya.

Ia juga meminta pelaku industri melakukan stress test untuk mengukur seberapa kuat bisnis mereka mampu bertahan jika rupiah terus melemah.

“Jadi pelaku industri sekarang diharapkan semua melakukan stress test, di titik berapa perlakuan rupiah mereka masih bisa bertahan, sehingga pelaku industri pun juga harus bersiap menghadapi skenario yang terburuk. Sehingga mereka tidak kaget dan juga melakukan antisipasi sejak awal,” imbuh Bhima.

Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda menilai pemerintah perlu fokus memperkuat rupiah dan menjaga daya beli masyarakat.

Menurut Huda, langkah yang bisa dilakukan yakni mempertimbangkan kebijakan suku bunga Bank Indonesia serta realokasi anggaran dari program-program dengan biaya besar.

“Yang pasti penguatan rupiah menjadi prioritas. Sektor moneter harus pertimbangkan betul soal kenaikan BI-rate. Sektor fiskal harus ada realokasi anggaran untuk menyelamatkan daya beli masyarakat. Jadi dua kebijakan tersebut sangat bisa dilakukan untuk saat ini,” kata Huda.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka