Jakarta (KABARIN) - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa pukul 11.02 WIB tercatat melemah 60 poin atau 0,34 persen menjadi Rp17.728 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.668 per dolar AS.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra menyebut pelemahan rupiah dipicu oleh dampak konflik di Timur Tengah yang turut mendorong kenaikan harga minyak mentah serta ekspektasi inflasi di Amerika Serikat.
“Ini masih euforia konflik Timur Tengah yang merembet kemana-mana seperti kenaikan harga minyak mentah dan inflasi,” ujarnya di Jakarta, Selasa.
Menurut Ariston, meningkatnya ekspektasi inflasi di AS turut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, yang kini berada di level 4,105 persen untuk tenor 2 tahun, 4,631 persen untuk tenor 10 tahun, dan 5,159 persen untuk tenor 30 tahun. Level tersebut disebut menjadi yang tertinggi pada 2026.
Kenaikan yield tersebut membuat dolar AS semakin kuat terhadap mata uang lainnya, termasuk rupiah.
Dari sisi domestik, tekanan juga datang dari harga minyak mentah yang bertahan di atas 100 dolar AS per barel, sehingga meningkatkan biaya impor energi dan kebutuhan dolar di dalam negeri.
Selain itu, faktor musiman berupa repatriasi dividen ke luar negeri juga turut menambah permintaan dolar AS, yang pada akhirnya menekan pergerakan rupiah.
Sumber: ANTARA