Jakarta (KABARIN) - Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal akses terbuka BMJ Nutrition Prevention & Health menemukan bahwa konsumsi rutin makanan nabati tertentu seperti kacang-kacangan, lentil, buncis, tahu, edamame, dan susu kedelai berkaitan dengan penurunan risiko hipertensi hingga sekitar 30 persen.
Dilansir Science Daily pada Selasa (26/5) waktu setempat, studi tersebut merupakan hasil analisis dari 10 makalah yang mencakup data 12 studi observasional jangka panjang di berbagai wilayah, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan Asia
Lima studi berasal dari AS, lima dari Asia (termasuk China, Iran, Korea Selatan, dan Jepang), serta dua dari Eropa (Prancis dan Inggris).
Hasil analisis menunjukkan bahwa individu dengan konsumsi kacang-kacangan tertinggi memiliki risiko 16 persen lebih rendah terkena hipertensi dibandingkan kelompok dengan konsumsi terendah. Sementara itu, konsumsi makanan berbasis kedelai dikaitkan dengan penurunan risiko sekitar 19 persen.
Peneliti juga menemukan adanya hubungan dosis-respons. Pada kacang-kacangan, manfaat penurunan risiko meningkat hingga konsumsi sekitar 170 gram per hari, dengan penurunan risiko mencapai sekitar 30 persen.
Sedangkan pada produk kedelai, manfaat optimal terlihat pada konsumsi 60–80 gram per hari dengan penurunan risiko 28–29 persen, sementara konsumsi di atas itu tidak menunjukkan manfaat tambahan yang signifikan.
Secara biologis, manfaat ini diduga berasal dari kandungan serat larut yang dapat difermentasi di usus menjadi asam lemak rantai pendek, yang membantu relaksasi dan pelebaran pembuluh darah. Selain itu, kedelai juga mengandung isoflavon yang berperan dalam membantu menurunkan tekanan darah.
Profesor Sumantra Ray, Kepala Ilmuwan sekaligus Direktur Eksekutif NNEdPro Global Institute for Food, Nutrition and Health, menyebut temuan ini memperkuat bukti ilmiah terkait manfaat diet berbasis tumbuhan terhadap kesehatan jantung.
“Penelitian ini memperkuat dasar bukti untuk manfaat kardioprotektif dari diet berbasis tumbuhan. Para penulis telah secara signifikan menambah argumen untuk menggunakan kacang-kacangan dan kedelai sebagai strategi diet utama untuk mengurangi beban hipertensi global,” katanya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa masih terdapat kemungkinan faktor lain yang belum terukur dalam studi tersebut. Ia juga menyebut perlunya penelitian lanjutan terkait batas manfaat konsumsi kedelai.
“Namun kita tidak bisa sepenuhnya mengesampingkan pengaruh faktor-faktor berpengaruh yang tidak terukur. Dan terhentinya manfaat kedelai pada dosis 60-80 g/hari memerlukan penyelidikan lebih lanjut, karena masih belum jelas apakah ini mencerminkan batasan biologis yang sebenarnya atau merupakan hasil sampingan dari jumlah studi yang lebih sedikit yang tersedia untuk dianalisis,” kata Ray.
Sumber: ANTARA