Jakarta (KABARIN) - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN mengungkapkan bahwa mayoritas generasi muda di Indonesia tetap ingin menikah dan memiliki anak sebagai tujuan ideal di masa depan.
"Mayoritas masyarakat tetap ingin menikah dan memiliki anak, baik di provinsi besar maupun wilayah timur, mayoritas masyarakat tetap memilih menikah. Temuan ini selaras dengan survei UNFPA bahwa masyarakat Indonesia tetap memiliki keinginan membangun keluarga dan memiliki anak," kata Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga/BKKBN Bonivasius Prasetya Ichtiarto dalam taklimat media menuju Hari Kependudukan Sedunia di Jakarta, Rabu.
Oleh karena itu, perspektif tentang kependudukan saat ini telah berubah dari dua anak cukup, menjadi berencana itu keren untuk mewujudkan keluarga berkualitas. Pemerintah tetap mendorong keseimbangan penduduk (population balance) atau sustainable demography di mana jumlah penduduk tidak boleh terlalu banyak maupun terlalu sedikit, tetapi, fokus kebijakan tidak lagi sekadar membatasi jumlah anak.
"Narasi yang dikembangkan bergeser menjadi 'Dua anak lebih sehat', bukan sekadar 'Dua anak cukup'. Memiliki lebih dari dua anak diperbolehkan selama kualitas hidup, pendidikan, dan kesehatan anak tetap terjamin," ucap Bonivasius.
Untuk merespons hal tersebut, Kemendukbangga/BKKBN terus meningkatkan ketahanan demografi melalui ketahanan keluarga, yang sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
Namun, lanjut dia, saat ini Indonesia memiliki berbagai tantangan utama seperti tekanan ekonomi keluarga atau permasalahan perempuan bekerja yang masih menghadapi beban pengasuhan anak.
"Salah satu solusi adalah menyediakan daycare atau Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) di lingkungan kerja. Daycare mampu meningkatkan kualitas pengasuhan, meningkatkan produktivitas pekerja perempuan, serta memberikan ketenangan bagi ibu saat bekerja. Gagasan penyediaan daycare di perusahaan juga telah disampaikan dalam pertemuan Presiden dengan jajaran pemerintah," tuturnya.
Berdasarkan survei demografi UNFPA di 73 negara, ditemukan bahwa lebih dari dua pertiga responden tetap memilih institusi pernikahan sebagai jalur hidup ideal mereka. Data ini mematahkan anggapan bahwa generasi muda mulai meninggalkan nilai-nilai keluarga. Namun, mereka menetapkan standar yang tinggi.
Generasi muda secara tegas memprioritaskan tercapainya stabilitas finansial serta kesehatan fisik dan mental yang prima sebagai syarat mutlak sebelum memasuki tahapan kehidupan baru. Meski dua pertiga responden merasa optimis terhadap masa depan pribadi mereka, terdapat kekhawatiran kolektif yang tinggi terhadap ketidakpastian ekonomi global, risiko konflik, dan ketimpangan sosial.
Hambatan terbesar (72 persen) datang dari pertimbangan kondisi ekonomi yang menantang dan keterbatasan akses perumahan layak, yang menjadi faktor penentu paling sering menghalangi niat untuk memiliki anak.
Sumber: ANTARA