Jakarta (KABARIN) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di zona merah pada perdagangan sesi pertama Jumat. Pelemahan indeks disebut masih dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang membuat investor memilih bersikap lebih hati-hati.
Pengamat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa mengatakan penguatan dolar Amerika Serikat, tingginya suku bunga global, serta derasnya arus keluar dana asing masih menjadi faktor utama yang menekan pergerakan pasar saham Indonesia.
Selain itu, kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional turut memengaruhi psikologi pelaku pasar sehingga investor cenderung mengambil posisi defensif.
Menurut Reydi, tekanan jual yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir menunjukkan belum meredanya aksi pelepasan saham, terutama pada emiten-emiten berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi incaran investor asing.
“Di tengah likuiditas yang menurun dan sentimen yang masih negatif, setiap rebound cenderung dimanfaatkan untuk melakukan profit taking atau pengurangan risiko,” ujar Reydi.
Ia menilai investor asing saat ini masih memilih mengurangi porsi investasinya di pasar saham domestik.
“Fokus mereka lebih banyak tertuju pada stabilitas nilai tukar rupiah, arah kebijakan ekonomi, dan peluang investasi di pasar lain yang dianggap lebih menarik dari sisi risiko dan imbal hasil,” ujar Reydi.
Untuk jangka pendek, Reydi memperkirakan IHSG masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah selama tekanan terhadap rupiah dan arus keluar modal asing belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Meski demikian, peluang terjadinya technical rebound masih terbuka apabila nilai tukar rupiah mulai stabil dan aksi jual investor asing berkurang. Kondisi itu didukung oleh sejumlah saham unggulan yang saat ini dinilai sudah berada pada level valuasi yang relatif menarik atau undervalued.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada penutupan sesi I perdagangan Jumat (5/6) turun 147,62 poin atau 2,53 persen ke level 5.692,15.
Aktivitas perdagangan tercatat mencapai 1.322.798 transaksi dengan volume 25,25 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp21,08 triliun. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 111 saham menguat, 588 saham melemah, dan 109 saham bergerak stagnan.
Sumber: ANTARA