Jakarta (KABARIN) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan ekspor listrik bersih dari Indonesia ke Singapura belum dapat direalisasikan pada tahun ini karena masih membutuhkan pembangunan infrastruktur transmisi.
Menurut Airlangga, pembangunan fasilitas transmisi listrik untuk mendukung ekspor energi bersih memerlukan waktu sekitar satu hingga satu setengah tahun sebelum dapat dioperasikan.
“Tidak (bisa terlaksana tahun ini). Membangun fasilitas transmisi listrik setidaknya membutuhkan waktu 1 - 1,5 tahun untuk diimplementasikan,” kata Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan pemerintah saat ini masih melakukan evaluasi teknis bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia guna mematangkan pelaksanaan kerja sama tersebut.
“Saya pikir untuk hal ini kami masih mengevaluasi aspek teknisnya dengan Menteri ESDM. Harapannya saat pertemuan pemimpin nanti kita bisa memfinalisasi implementasi dari MoU yang sudah ditandatangani tahun lalu,” ujarnya.
Sebelumnya, Bahlil telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait ekspor listrik bersih ke Singapura dengan kapasitas mencapai 3,4 gigawatt (GW) hingga 2035.
Kesepakatan tersebut tercapai setelah melalui proses negosiasi yang panjang. Pemerintah Indonesia sebelumnya menegaskan bahwa kerja sama harus memberikan manfaat timbal balik dan tidak hanya sebatas ekspor energi.
Hasil negosiasi menghasilkan kesepakatan pembangunan kawasan industri berkelanjutan bersama di wilayah Batam, Bintan, dan Karimun (BBK), Kepulauan Riau.
“Saya katakan bahwa hubungan kerja sama harus dilakukan dengan prinsip saling menguntungkan. Kami mengirim listrik ke Singapura, dan dari hasil negosiasi, Singapura bersama Indonesia akan membangun kawasan industri bersama,” kata Bahlil.
Pemerintah berharap implementasi ekspor listrik bersih dan pengembangan kawasan industri tersebut dapat berjalan seiring sebagai bagian dari penguatan kerja sama ekonomi dan energi antara Indonesia dan Singapura.
Sumber: ANTARA