Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Pengaruhi Penguatan Rupiah

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu pagi. Salah satu faktor yang dinilai ikut mendorong penguatan mata uang Garuda adalah kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi yang baru diumumkan pemerintah melalui Pertamina.

Rupiah tercatat menguat 158 poin atau sekitar 0,88 persen menjadi Rp17.900 per dolar AS. Sebelumnya, mata uang Indonesia ditutup di level Rp18.058 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai pasar memberikan respons positif terhadap kebijakan penyesuaian harga BBM non subsidi karena dianggap dapat membantu memperbaiki kondisi fiskal pemerintah tanpa memicu risiko sosial dan politik yang berlebihan.

“Transmisi kebijakan kenaikan harga BBM non subsidi dinilai baik (oleh pelaku pasar) terhadap fiskal pemerintah dan risiko sosial politik yang masih terkendali,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Seperti diketahui, Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni 2026.

Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 (RON 95) meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Menurut Pertamina, keputusan penyesuaian harga tersebut telah dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah sebagai regulator. Penetapan harga juga mengikuti mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar yang berlaku.

Meski demikian, tidak semua produk BBM mengalami kenaikan harga. Pertamax Turbo (RON 98) tetap dijual Rp20.750 per liter. Kemudian Dexlite (CN 51) masih dibanderol Rp23.000 per liter dan Pertamina Dex (CN 53) tetap berada di level Rp24.800 per liter.

Untuk BBM bersubsidi, harga Pertalite masih bertahan di Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar tetap Rp6.800 per liter.

Selain faktor BBM, penguatan rupiah juga didukung oleh keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen.

Kebijakan tersebut dinilai memberikan sentimen positif ke pasar keuangan. Hal itu terlihat dari penguatan indeks saham domestik dan tetap tingginya minat investor asing dalam lelang obligasi pemerintah.

Meski begitu, Rully mengingatkan bahwa sejumlah faktor global masih berpotensi menahan laju penguatan rupiah dalam waktu dekat.

“Faktor global akan memperberat langkah rupiah untuk penguatan lebih jauh, di antaranya risiko geopolitik eskalasi konflik AS dan Iran terbaru membuat harga minyak masih di level yang tinggi dan pelaku pasar masih menunggu data inflasi AS nanti malam yang diperkirakan akan berada pada tren peningkatan,” ungkap Rully.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Rully memperkirakan pergerakan rupiah dalam jangka pendek akan berada di kisaran Rp18.030 hingga Rp18.080 per dolar AS.

Meski berhasil menguat pada awal perdagangan, arah rupiah selanjutnya masih akan dipengaruhi perkembangan ekonomi global, harga energi, hingga data inflasi Amerika Serikat yang menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Baca juga: Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Baca juga: Rupiah Menguat ke Angka Rp17.900 per Dolar AS pada Rabu Pagi

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka