Jakarta (KABARIN) - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Indonesia mengajak rakyat mengambil tindakan untuk menghadapi perubahan iklim melalui The Green Community Festival dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.
"Aksi iklim bukan hanya tentang kebijakan berskala besar. Ini juga tentang pilihan yang kita buat setiap hari, di rumah, di sekolah, di komunitas kita, dan dalam cara kita saling peduli," kata Direktur Pusat Informasi PBB di Indonesia (UNIC) Miklos Gaspar dalam keterangannya, Jumat (26/6).
Ia menambahkan bahwa Hari Lingkungan Hidup Sedunia merupakan "momen untuk mendengarkan sinyal-sinyal yang dikirimkan Bumi kepada kita, dan merespons dengan tindakan."
Festival yang digelar di Taman Martha Christina Tiahahu, Taman Literasi Blok M, Jakarta, pada Kamis itu diikuti ratusan peserta dari komunitas, kalangan muda, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat umum untuk berdiskusi, belajar, dan melakukan aksi lingkungan.
Menurut UNIC, festival tersebut diselenggarakan di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim, yang ditandai dengan beberapa tahun terpanas dalam sejarah pencatatan serta meningkatnya frekuensi dan dampak bencana terkait iklim.
UNIC juga menyebut dampak perubahan iklim paling dirasakan oleh masyarakat yang telah menghadapi bencana iklim secara langsung.
Acara tersebut menghadirkan lokakarya pertanian perkotaan, gelar wicara tentang investasi hijau, permainan bertema keberlanjutan, pertunjukan musik, serta stan pameran yang diikuti UNICEF, FAO, UNEP, UNHCR, IOM, UNDP, UN Women, mitra pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lingkungan.
Festival tersebut juga menyoroti keterkaitan antara perubahan iklim, sistem pangan, pengungsian, mata pencaharian, dan kesetaraan gender, sekaligus menghubungkan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan Hari Pengungsi Sedunia dan Tahun Perempuan Tani Internasional.
Salah satu agenda utama festival adalah pengumuman Cool School Challenges, sebuah inisiatif yang mengajak siswa sekolah menengah atas (SMA) di seluruh Indonesia mengembangkan gagasan dan aksi untuk mewujudkan sekolah serta komunitas yang lebih berkelanjutan.
Program tersebut menerima 76 karya dari SMA di berbagai daerah. Sebanyak 15 finalis terpilih berasal dari Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat.
Beragam gagasan yang diajukan meliputi penghijauan sekolah, pengurangan sampah, pertanian perkotaan, penghematan energi, kampanye lingkungan, dan solusi iklim berbasis komunitas.
Miklos Gaspar menilai ke-76 karya tersebut menunjukkan bahwa generasi muda tidak menunggu orang lain untuk bertindak.
"Mereka sudah memulainya dari sekolah dan komunitas mereka sendiri," kata dia. "Itu memberi kita harapan."
Baca juga: Menhut: Indonesia Siap Pimpin Solusi Iklim Berbasis Hutan di Dunia
Baca juga: IDAI: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Malaria, hingga Diare pada Anak
Sumber: ANTARA