Soul

Kesepian Bisa Berdampak Langsung pada Kesehatan Mental dan Otak

Jakarta (KABARIN) - Kesepian ternyata bukan cuma soal perasaan sepi, tapi juga punya dampak nyata ke kesehatan mental dan cara kerja otak. Psikolog menyebut kesepian sebagai bentuk “rasa sakit sosial” yang diproses otak dengan cara yang mirip seperti rasa sakit fisik saat tubuh cedera.

Mengutip Medical Daily, Kamis (8/1) waktu setempat, berbagai penelitian menemukan bahwa bagian otak yang aktif saat seseorang mengalami penolakan sosial sama dengan area yang aktif ketika tubuh merasakan nyeri. Respons ini diyakini berkembang secara alami untuk mendorong manusia kembali mencari dan membangun hubungan sosial.

Masalahnya, kalau kesepian dan isolasi emosional berlangsung lama, otak bisa masuk ke mode waspada terus-menerus. Kondisi ini bikin seseorang lebih sensitif terhadap hal-hal negatif dan cenderung sulit percaya pada orang lain.

Kesepian juga memicu sistem stres di otak. Saat merasa tersisih, tubuh memandangnya sebagai ancaman dan melepaskan hormon stres seperti kortisol. Jika terjadi berkepanjangan, hal ini bisa membuat kamu gampang lelah, mudah marah, dan daya tahan tubuh ikut menurun.

Dari sisi cara berpikir, orang yang kesepian cenderung menafsirkan sinyal sosial secara negatif. Pesan singkat atau ekspresi wajah yang sebenarnya netral sering dianggap sebagai penolakan. Pola ini bikin seseorang makin menarik diri dan akhirnya semakin terisolasi secara emosional.

Harga diri juga bisa ikut turun. Minimnya interaksi bermakna berarti sedikit umpan balik positif dari orang lain. Ini bisa mengurangi motivasi dan memperburuk suasana hati. Otak merespons rasa sakit emosional ini secara nyata, setara dengan ketidaknyamanan fisik.

National Institutes of Health menyebut kesepian berkepanjangan berkaitan erat dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, dan stres kronis. Secara psikologis, kondisi ini juga memicu ruminasi, yaitu kebiasaan memutar ulang pikiran negatif tentang diri sendiri dan masa depan.

Tak hanya itu, penelitian juga menunjukkan kesepian kronis bisa mengganggu perhatian dan daya ingat. Orang yang merasa terisolasi secara emosional cenderung punya waktu reaksi lebih lambat dan fleksibilitas berpikir yang menurun karena beban emosional menyita kapasitas mental.

Meski sering berjalan bareng, kesepian dan depresi sebenarnya berbeda. Kesepian muncul karena kebutuhan akan keterhubungan sosial tidak terpenuhi, sedangkan depresi melibatkan faktor biologis dan kimia di otak. Namun, kalau kesepian dibiarkan terlalu lama, risikonya bisa berkembang menjadi depresi.

Untuk mengatasinya, dibutuhkan pendekatan sosial dan psikologis. Psikolog menekankan pentingnya membangun hubungan yang bermakna, bukan sekadar banyak interaksi. Ikut kegiatan kelompok, relawan, atau komunitas sesuai minat bisa membantu memperluas koneksi sosial.

Pendekatan kognitif perilaku juga berguna untuk membantu kamu mengenali dan mengubah pola pikir negatif soal hubungan sosial. Selain itu, latihan mindfulness dan welas asih terhadap diri sendiri bisa meredakan tekanan emosional akibat kesepian.

Para ahli juga menegaskan bahwa koneksi digital tidak sepenuhnya bisa menggantikan pertemuan langsung. Interaksi tatap muka dinilai lebih efektif membangun rasa aman dan kepercayaan. Pada akhirnya, kesepian adalah sinyal bahwa kebutuhan sosial kamu belum terpenuhi, dan membangun kembali keterhubungan jadi kunci penting untuk menekan stres serta menjaga kesehatan mental.

Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: