Jakarta (KABARIN) - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengungkapkan bahwa sistem sungai di Ibu Kota rata-rata hanya mampu menampung air hujan hingga sekitar 150 milimeter (mm) per hari.
“Persoalannya adalah karena 'catchment'-nya ini tidak mencukupi. Jadi, walaupun dikeruk semuanya, nggak ada tambahan sedimen, itu cuma mampu di Jakarta ini menampung curah hujan 150 mm per hari,” kata Pramono di Jakarta Barat, Senin.
Menurut Pramono, risiko banjir akan semakin besar apabila curah hujan melampaui kapasitas sungai, terlebih jika bersamaan dengan kiriman air dari wilayah hulu di luar Jakarta.
Apalagi, kata Pramono, jika curah hujan di Jakarta mencapai 200 mm.
Ia mencontohkan, sejumlah kejadian banjir yang terjadi di Jakarta pada pertengahan Januari lalu merupakan dampak dari hujan berintensitas tinggi yang turun dalam durasi singkat, ditambah aliran air dari daerah hulu.
Oleh karena itu, pengerukan di sungai-sungai Jakarta terus dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya banjir.
“Seperti tanggal 12, 18, dan 22 kemarin, hujan tinggi dalam waktu sekitar delapan jam, lalu ditambah pengiriman air dari hulu. Karena itu, pengerukan itu harus dilakukan terus menerus,” ungkap Pramono.
Selain pengerukan, Pramono juga memaparkan langkah antisipasi jangka menengah yang disiapkan Pemprov DKI Jakarta untuk mengurangi risiko banjir.
Pemerintah daerah berencana melakukan normalisasi pada tiga sungai utama, yakni Sungai Ciliwung, Krukut dan Cakung Lama.
“Untuk Ciliwung akan segera dimulai bersama pemerintah pusat dan Kementerian Pekerjaan Umum, termasuk pembangunan tanggul. Sedangkan Krukut dan Cakung Lama akan kita mulai tahun ini,” katanya.
Pramono berharap, berbagai langkah tersebut dapat meningkatkan kapasitas pengendalian banjir di Jakarta secara bertahap.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026