News

Pertamina Hadirkan Terminal Hijau untuk Dukung Transisi Rendah Karbon

Cilegon (KABARIN) - PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, PT Pertamina Energy Terminal (PET), mulai melakukan asesmen delapan pilar Green Terminal atau Terminal Hijau di Terminal LPG Tanjung Sekong, Cilegon, Banten. Inisiatif ini jadi bagian strategi Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) 2026 untuk memperkuat transisi energi dan pengembangan bisnis rendah karbon.

“Green Terminal bukan hanya proyek, tetapi bagian dari strategi keberlanjutan bisnis yang terintegrasi,” kata Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, saat seremoni kick off Green Terminal di Tanjung Sekong, Rabu.

Kick off ini menandai dimulainya penilaian standar terminal hijau pada fasilitas strategis yang menyuplai sekitar 35–40 persen kebutuhan LPG nasional. Asesmen dilakukan terhadap delapan pilar utama, mencakup operasional, keselamatan, lingkungan, tata kelola, sosial, hingga transformasi digital, agar terminal tetap andal, kompetitif, dan berkelanjutan.

Agung menambahkan, penerapan prinsip ESG juga jadi pengungkit untuk menjaga keandalan operasional sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon. “Pemanfaatan energi terbarukan dilakukan untuk menurunkan jejak karbon operasional terminal,” ujarnya.

PET sudah memasang panel surya di Terminal LPG Tanjung Sekong dengan kapasitas 85,5 kWp, serta di Integrated Terminal Tanjung Uban sebesar 1.700 kWp.

Direktur Utama PET, Bayu Prostiyono, menjelaskan selain energi surya, PET juga mendiversifikasi energi dengan mengalihkan penggunaan genset berbahan bakar fosil ke jaringan listrik nasional. “Kami juga menyiapkan pengembangan hidrogen hijau yang terintegrasi dengan proyek panas bumi Ulubelu,” tambah Bayu.

Proyek hidrogen hijau ini dirancang sebagai uji coba awal sebelum diterapkan lebih luas, sekaligus langkah percepatan transformasi terminal energi rendah karbon. Sinergi ini melibatkan PT Pertamina Geothermal Energy sebagai penyedia hidrogen, PT Elnusa Petrofin untuk distribusi, dan PET sebagai pengguna operasional terminal.

Skema ini ditargetkan mampu memenuhi hingga 25 persen kebutuhan listrik operasional Terminal LPG Tanjung Sekong sekaligus menurunkan emisi tidak langsung (Scope 2 emissions) dari penggunaan listrik konvensional.

Terminal LPG Tanjung Sekong sendiri merupakan fasilitas strategis dengan dermaga kapasitas kapal hingga 65.000 DWT, serta tangki penyimpanan propane dan butane masing-masing 44.000 metrik ton.

PET menargetkan proses asesmen dan penyusunan roadmap Terminal Hijau berlangsung sepanjang 2027–2028 sebagai bagian dari transformasi menuju pengelola terminal energi terintegrasi berkelas dunia.

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: