Tokyo (KABARIN) - Amerika Serikat memberi sinyal kuat bahwa kerja sama dagang dengan Indonesia bakal segera mencapai titik akhir. Perwakilan Dagang AS (USTR) Jamieson Greer menyebut kesepakatan ini berpeluang rampung dalam waktu dekat, hanya dalam hitungan beberapa pekan.
Dalam wawancara bersama Fox Business, Greer menyebut Indonesia sebagai negara berikutnya yang siap masuk tahap finalisasi kerja sama dagang.
"saya melihat Indonesia sebagai yang berikutnya".
Ia juga menilai Indonesia punya potensi besar sebagai pasar strategis bagi produk Amerika Serikat, apalagi dengan jumlah penduduk yang sudah melampaui 250 juta jiwa.
Menurut Greer, komunikasi antara kedua negara berjalan sangat intens dan konsisten.
"Kami hampir setiap hari berdialog dengan pihak Indonesia, dan ini yang membuat kami senang," kata Greer.
Pernyataan ini muncul di tengah rangkaian pengumuman kesepakatan dagang bilateral yang sebelumnya sudah disampaikan Presiden AS Donald Trump, termasuk dengan India dan Bangladesh dalam beberapa hari terakhir.
Situasi tersebut juga beriringan dengan proses hukum di Mahkamah Agung AS yang sedang mengkaji keabsahan tarif resiprokal yang diberlakukan pemerintahan Trump terhadap hampir seluruh mitra dagang AS. Putusan terkait kebijakan tarif ini paling cepat diperkirakan keluar pada 20 Februari.
Greer mengatakan pemerintahan Trump cukup optimistis dengan hasil keputusan tersebut. Namun jika Mahkamah Agung menyatakan kebijakan tarif itu bertentangan dengan konstitusi, Trump dipastikan akan menyiapkan skema lain untuk tetap menerapkan kebijakan tarif tinggi.
"Mungkin akan perlu waktu lebih lama, tetapi kami ... berfokus untuk memastikan keberlanjutan terkait jenis dan tingkat tarif yang perlu diberlakukan," kata pejabat itu.
Selain membahas Indonesia, Greer juga menyinggung hubungan dagang AS dengan China yang menurutnya masih berada dalam kondisi stabil.
Ia memastikan agenda kunjungan Presiden Trump ke China pada April mendatang sudah dijadwalkan, termasuk pertemuan dengan Presiden Xi Jinping.
Menurut Greer, meski AS tetap harus melakukan perdagangan dengan China, mekanismenya harus dikelola secara hati-hati agar menguntungkan ekonomi sekaligus menjaga kepentingan keamanan nasional.
Pejabat AS dan China disebut terus menjalin komunikasi rutin dan akan melanjutkan dialog sebelum pertemuan Trump dan Xi berlangsung.
"Kami berupaya untuk memastikan perdagangan mengalir di sektor-sektor yang penting bagi kedua negara," kata dia.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026