Jakarta (KABARIN) - Penyakit jantung bawaan ternyata bisa dikenali sejak bayi lahir. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Yovi Kurniawati menjelaskan bahwa penyakit jantung bawaan merupakan kelainan pada struktur atau fungsi sirkulasi jantung yang sudah terjadi sejak lahir.
Dalam acara temu media di Jakarta, Kamis, dr. Yovi mengatakan penyebab penyakit jantung bawaan pada beberapa kasus memang belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang diduga bisa memicu kondisi tersebut.
Menurutnya, penyakit jantung bawaan dapat berkaitan dengan sindrom tertentu, infeksi pada ibu saat hamil, hingga paparan asap rokok dan alkohol selama masa kehamilan.
Dokter lulusan Universitas Indonesia
itu juga mengingatkan orang tua untuk lebih peka terhadap tanda-tanda awal penyakit jantung bawaan pada anak.
Salah satu gejala yang cukup umum bisa terlihat saat bayi menyusu. Jika bayi sering berhenti menyusu karena sesak napas, kondisi tersebut patut diwaspadai.
Selain itu, anak dengan penyakit jantung bawaan biasanya juga mengalami kesulitan menaikkan berat badan.
Dr. Yovi menjelaskan tanda lain yang bisa muncul antara lain batuk dan demam berulang, napas cepat, detak jantung lebih kencang, pembengkakan di kaki atau perut, area sekitar mata tampak sembab, hingga bibir, bagian dalam mulut, dan ujung kuku yang terlihat kebiruan.
Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya akan melakukan beberapa pemeriksaan mulai dari pengecekan riwayat pasien, pemeriksaan fisik, rekam jantung, foto polos dada, USG jantung, hingga pemeriksaan laboratorium.
Saat konsultasi, dokter juga akan menggali informasi soal gejala yang paling sering muncul, riwayat keluarga, kondisi kehamilan ibu, hingga tumbuh kembang anak.
Selain itu, pemeriksaan lanjutan seperti pulse oximetry, EKG, ekokardiografi, kateterisasi, CT scan, dan MRI juga bisa dilakukan bila diperlukan.
"Pada penatalaksanaannya bisa saja kita lakukan medikamentosa atau pemberian obat-obatan, namun perlu pengamatan lebih lanjut. Bisa juga kateterisasi, intervensi/non bedah, hingga operasi," katanya.
Dr. Yovi juga menjelaskan bahwa prosedur kateterisasi kini sudah bisa dilakukan dengan metode Zero Fluoroscopy Procedure tanpa radiasi menggunakan bantuan echocardiography (TTE/TEE).
"Tindakan ini dilakukan karena paparan radiasi terhadap pasien dan dokter atau operator yang berulang akan memberikan efek buruk terhadap kesehatan, jadi sebisa mungkin perlu dihindari," katanya.
Menurut dr. Yovi, penyakit jantung bawaan yang tidak ditangani bisa menyebabkan berbagai komplikasi serius seperti gagal jantung, infeksi jantung, gangguan irama jantung, hipertensi paru, hingga kematian prematur.
Karena itu, pemeriksaan sejak bayi lahir menjadi langkah penting agar kondisi ini bisa cepat terdeteksi dan segera ditangani.
Saat ini, pemeriksaan oksimetri pada bayi baru lahir bahkan sudah direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia sebagai skrining awal untuk mendeteksi penyakit jantung bawaan kritis.
"Jadi bayi baru lahir diperiksa oksimetrinya atas sama bawah. Kaki sama tangan...," katanya.
"Ini untuk menilai ada penyakit jantung kritis atau enggak," tambahnya.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026