Shenzhen (KABARIN) - Pabrikan kendaraan listrik asal China BYD meluncurkan teknologi terbaru berupa chip untuk sistem mengemudi otonom berukuran 4 nanometer (nm) bernama Xuanji A3 yang disebut sebagai terobosan pertama untuk mobil swakemudi.
"Di sini saya akan berbagi kabar baik yang sangat menggembirakan, hari ini, cip otomotif BYD yang ke-567 yaitu cip mengemudi otonom berdaya komputasi tinggi hadir! Inilah Xuanji A3 berukuran 4 nanometer yang sepenuhnya dikembangkan sendiri oleh BYD," kata Chief Executive Officer BYD, Wang Chuanfu dalam acara peluncuran di kantor pusat BYD, Shenzhen, Kamis (28/5).
Dalam acara yang dihadiri sekitar 300 content creator dan media dari China serta sejumlah negara lain itu, Wang menyebut chip tersebut memiliki efisiensi energi tinggi dan mengonsumsi daya sekitar 20 persen lebih hemat dibandingkan semikonduktor sejenis.
Langkah ini disebut melampaui teknologi chip otomotif Huawei yang saat ini berada di level 7 nanometer, meski perusahaan tersebut disebut berencana mengembangkan chip 1,4 nanometer pada 2031.
Satuan nanometer sendiri merujuk pada ukuran transistor dalam chip, di mana semakin kecil ukurannya, semakin banyak transistor yang dapat dimuat sehingga meningkatkan performa dan efisiensi.
"Sebagai cip otonom 4 nm pertama di China yang dikembangkan sendiri, ini mewakili level tertinggi chip otonom China," tambah Wang.
Ia juga menyampaikan bahwa chip tersebut sudah mulai diproduksi secara massal dalam skala besar.
BYD menyebut platform komputasi baru ini mengintegrasikan tiga sistem utama dalam kendaraan listrik, yaitu kokpit pintar, sistem bantuan pengemudi, dan sistem propulsi listrik inti.
Perusahaan juga mengklaim telah mengembangkan lebih dari 2.000 jenis chip yang digunakan di berbagai sektor, termasuk mobil cerdas, perangkat rumah tangga, hingga industri energi.
BYD saat ini masih menunggu regulasi resmi pemerintah China terkait perluasan penggunaan kendaraan swakemudi untuk publik. Meski belum menghadirkan sistem otonom penuh, perusahaan berencana memperluas sistem bantuan mengemudi ke seluruh lini produknya.
Teknologi sensor LiDAR yang mereka sebut “God’s Eye” juga akan diperluas ke model kendaraan yang lebih terjangkau, tidak hanya mobil premium seperti sebelumnya.
"Kami punya kabar baik, hari ini, kami telah mencapai terobosan, ke depan akan ditingkatkan ke model 'end-to-end' tanpa peta. Kami rencanakan pada bulan September tahun ini akan melakukan push melalui OTA (Over-the-Air yaitu pembaruan software kendaraan yang dikirim lewat internet tanpa harus datang ke bengkel). Jika berhasil, diperkirakan mulai Desember tahun ini akan didorong bertahap ke semua pengguna," kata dia.
BYD juga menegaskan bahwa fitur bantuan mengemudi tersebut akan semakin merata, termasuk pada model murah seperti “Seagull” dan “Dolphin”, dengan biaya yang disebut paling rendah di industri.
Didirikan pada 1995 sebagai produsen baterai, BYD kini berkembang menjadi perusahaan besar di sektor otomotif, energi baru, hingga elektronik, serta mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar kendaraan listrik di China selama satu dekade terakhir.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026