Istanbul (KABARIN) - Harga minyak dunia kembali menguat, sementara lalu lintas pelayaran komersial di Selat Hormuz melambat setelah eskalasi terbaru konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan risiko keamanan di salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia.
Pada Ahad, harga minyak mentah Brent naik sekitar 3,5 persen hingga mendekati 79 dolar AS per barel atau sekitar sembilan persen lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik memanas.
Data perusahaan pemantau maritim Kpler menunjukkan hanya 22 kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis. Sebelum konflik terjadi, rata-rata lebih dari 130 kapal melintas setiap hari di jalur tersebut.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sekitar 140 sasaran di Iran sebagai respons atas serangan Teheran terhadap sebuah kapal kontainer di Selat Hormuz.
Iran kemudian menyatakan telah membalas serangan tersebut dengan menyerang sejumlah posisi militer Amerika Serikat di kawasan.
Kepala Riset Timur Tengah Kpler Amena Bakr mengatakan eskalasi terbaru membuat kepercayaan perusahaan pelayaran terhadap keamanan jalur tersebut kembali menurun, sebagaimana dikutip The New York Times.
"Kepercayaan itu terkikis sangat, sangat cepat. Kami kembali ke titik awal dalam situasi ini," kata Bakr.
Dalam laporan yang dirilis Jumat, Badan Energi Internasional (IEA) menyebut pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk setelah gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran bulan lalu sempat meningkatkan pasokan energi global.
Namun, IEA mengingatkan bahwa pemulihan yang lebih luas masih sangat bergantung pada meredanya konflik dalam waktu dekat.
Bakr menambahkan pelaku pasar energi mulai beradaptasi dengan situasi ketegangan yang terus berulang di kawasan Timur Tengah.
"Pasar telah menyesuaikan diri dengan kondisi normal baru. Pergerakan harga belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya maupun tingkat risiko geopolitik," ujarnya.
Sumber: ANAD