Jakarta (KABARIN) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa bergerak menguat seiring mengikuti tren positif bursa saham Wall Street, Amerika Serikat, yang ditopang sentimen euforia kecerdasan buatan (AI).
IHSG dibuka menguat 82,62 poin atau 1,35 persen ke level 6.210,00. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga naik 5,05 poin atau 0,83 persen menjadi 616,22.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa pasar global masih mendapatkan dorongan dari optimisme terhadap perkembangan AI, meskipun risiko inflasi energi akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih membayangi.
“Pasar global masih ditopang oleh euforia AI, meski risiko inflasi energi dari konflik AS dengan Iran belum mereda,” ujar Liza dalam risetnya di Jakarta, Selasa.
Dari pasar global, berbagai indeks seperti MSCI World, MSCI Asia ex-Japan, MSCI Emerging Markets, serta Wall Street Big Three hingga Nikkei Jepang mencatat rekor penguatan. Bahkan, bursa Korea Selatan tercatat melonjak sekitar 4 persen.
Namun, penguatan tersebut terjadi di tengah kondisi ekonomi Amerika Serikat yang disebut semakin berbentuk “K-shaped”, dengan tingkat tabungan masyarakat berada di level rendah historis, sementara perusahaan besar justru menikmati lonjakan investasi di sektor AI.
Yardeni Research memperkirakan The Federal Reserve (The Fed) akan mulai mengubah kebijakan menjadi tightening bias dalam pertemuan FOMC pada 16–17 Juni 2026, dan berpotensi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juli 2026.
Lembaga tersebut juga menyoroti data inflasi AS seperti CPI, PPI, dan PCE yang kembali mendekati level tertinggi sejak 2023, dengan proyeksi Cleveland Fed menunjukkan inflasi Mei mencapai 4,18 persen secara tahunan. Sementara itu, Atlanta Fed GDPNow memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II sebesar 3,8 persen.
Fokus pelaku pasar kini tertuju pada data ketenagakerjaan AS, terutama rilis Nonfarm Payrolls pada Jumat mendatang yang dinilai berpotensi menjadi katalis utama pergerakan pasar global.
Dari dalam negeri, pemerintah mulai mengoperasikan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai BUMN ekspor untuk memperkuat skema ekspor satu pintu komoditas strategis mulai 1 Juni 2026. Tahap awal mencakup batu bara, CPO, dan ferro alloy yang menyumbang sekitar 23,4 persen total ekspor nasional.
Untuk mendukung devisa, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menawarkan insentif Pajak Penghasilan (PPh) hingga 0 persen bagi eksportir yang menempatkan Devisa Hasil Ekspor (DHE) SDA di dalam negeri, serta relaksasi penempatan di bank non-Himbara.
Bank Indonesia turut memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi pasar valas, pembelian SBN, serta pembatasan transaksi valas tanpa underlying hingga 25.000 dolar AS per bulan mulai Juni 2026.
Sementara itu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mempertahankan tingkat bunga penjaminan periode Juni–September 2026, yakni 3,50 persen untuk bank umum rupiah, 6,00 persen untuk BPR, dan 2,00 persen untuk valuta asing.
Di sisi lain, pemerintah juga menerbitkan aturan terkait fleksibilitas impor energi oleh BUMN untuk menjaga ketahanan pasokan minyak, BBM, dan LPG.
Kiwoom Sekuritas mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati di tengah banyaknya perubahan kebijakan dan menyarankan strategi perdagangan jangka pendek dengan posisi terbatas.
Sementara itu, bursa saham global lainnya turut menunjukkan pergerakan beragam. Bursa Eropa ditutup melemah, sedangkan Wall Street kompak menguat.
Di Asia, indeks Nikkei Jepang mencatat kenaikan signifikan, sementara Shanghai melemah tipis dan Hang Seng serta Strait Times menguat.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026