Jakarta (KABARIN) - Pernah melihat teman, pasangan, atau rekan kerja sedang bad mood dan bingung harus berbuat apa? Ternyata ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membantu memperbaiki suasana hati seseorang.
Menurut psikolog, kemampuan mengelola emosi orang lain atau interpersonal affect regulation merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan ini tidak hanya membantu mempererat hubungan sosial, tetapi juga membuat komunikasi menjadi lebih sehat dan nyaman.
Dilansir dari Psychology Today, penelitian yang dilakukan Naomi Niven, David Totterdell, dan Amanda Holman pada 2009 menemukan sejumlah strategi yang sering digunakan seseorang untuk memengaruhi emosi orang lain.
Dari 955 contoh yang dianalisis, para peneliti mengelompokkan strategi tersebut ke dalam dua kategori besar, yaitu strategi yang dapat memperbaiki suasana hati dan strategi yang justru memperburuk emosi seseorang.
Untuk membantu meningkatkan suasana hati, ada enam strategi utama yang dinilai efektif.
1. Membuat Seseorang Merasa Dihargai
Strategi pertama dikenal sebagai valuing atau menunjukkan penghargaan. Cara ini dilakukan dengan membuat seseorang merasa diperhatikan, diterima, dan didukung.
Kehadiran yang tulus, mendengarkan tanpa menghakimi, atau sekadar menunjukkan kepedulian dapat membuat seseorang merasa lebih berarti dan tidak sendirian menghadapi masalahnya.
2. Mengalihkan Perhatian dari Masalah
Strategi berikutnya adalah distracting atau mengalihkan perhatian. Ketika seseorang terlalu fokus pada masalah yang dihadapinya, mengajak mereka melakukan aktivitas lain bisa menjadi solusi.
Misalnya dengan mengajak jalan-jalan, menonton film, menghadiri acara tertentu, atau menghabiskan waktu bersama teman-teman yang suportif.
3. Menggunakan Humor
Tertawa sering kali menjadi obat sederhana yang efektif untuk memperbaiki suasana hati.
Humor dapat membantu mengurangi ketegangan emosional dan membuat seseorang merasa lebih rileks. Meski begitu, penting untuk memastikan candaan yang diberikan tetap sesuai situasi dan tidak menyinggung perasaan.
4. Mendengarkan dan Berempati
Strategi keempat adalah problem-focused engagement, yaitu berfokus pada masalah yang sedang dihadapi seseorang.
Cara ini dilakukan dengan mendengarkan keluh kesah mereka, memberi ruang untuk mengekspresikan emosi, dan menunjukkan empati tanpa terburu-buru memberikan solusi.
Terkadang, seseorang hanya membutuhkan teman untuk mendengarkan.
5. Mengingatkan pada Kelebihan yang Dimiliki
Saat seseorang sedang terpuruk, mereka sering kali lupa pada kemampuan dan pencapaian yang pernah diraih.
Karena itu, strategi target-focused engagement mendorong kita untuk mengingatkan mereka tentang kelebihan, prestasi, dan kualitas positif yang dimiliki agar rasa percaya dirinya kembali tumbuh.
6. Membantu Melihat Masalah dari Perspektif Berbeda
Strategi terakhir adalah cognitive engagement, yaitu membantu seseorang melihat situasi secara lebih objektif.
Dengan cara ini, seseorang dapat menemukan sudut pandang baru, memahami masalah dengan lebih jernih, serta melihat peluang atau solusi yang sebelumnya mungkin tidak terpikirkan.
Tiga Langkah Praktis Menurut Psikolog
Psikolog Jeremy Nicholson menjelaskan bahwa keenam strategi tersebut bisa dirangkum menjadi tiga langkah sederhana yang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah pertama adalah menghargai dan mendengarkan. Tunjukkan kepedulian dan beri kesempatan kepada seseorang untuk mencurahkan isi hati serta pikirannya.
Langkah kedua adalah mengajak mereka melakukan aktivitas positif sambil mengingatkan berbagai hal baik yang mereka miliki. Cara ini dapat membantu mengurangi fokus berlebihan pada masalah dan membangun kembali rasa percaya diri.
Langkah ketiga adalah menggunakan humor yang tepat serta memberikan saran yang konstruktif. Humor dapat mencairkan suasana, sementara saran yang bijak membantu seseorang melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.
Menurut Nicholson, kombinasi ketiga langkah tersebut dapat membantu seseorang keluar dari pola pikir negatif sekaligus mendukung mereka dalam mengambil keputusan yang lebih baik.
Pada akhirnya, kemampuan membantu mengelola emosi orang lain bukan hanya bermanfaat bagi mereka yang sedang mengalami masa sulit, tetapi juga dapat memperkuat hubungan yang lebih sehat, hangat, dan saling mendukung dalam kehidupan sehari-hari.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026