Jakarta (KABARIN) - Indonesia dan China membuka peluang kerja sama baru di bidang kebudayaan dan kesehatan tradisional. Salah satu rencana yang sedang dijajaki adalah pembangunan pusat pengobatan tradisional di Indonesia yang diharapkan bisa menjadi wadah pelestarian budaya sekaligus layanan kesehatan berbasis kearifan lokal.
Pembahasan kerja sama tersebut dilakukan antara Kementerian Kebudayaan Indonesia dan China State Construction International Holdings Limited (CSCI). Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai gagasan pembangunan pusat pengobatan tradisional memiliki nilai strategis karena tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas kesehatan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat.
“Kami sangat menyambut baik gagasan pembangunan pusat pengobatan tradisional di Indonesia. Seperti yang kita tahu, salah satu bagian dari pengobatan tradisional yakni jamu atau Wellness Culture merupakan ekspresi budaya yang telah diinkripsi sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO,” ungkap Menbud dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi dari Jakarta, Kamis.
Menurut Fadli, kerja sama Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) tidak hanya berpotensi berkembang di sektor kesehatan tradisional, tetapi juga dalam bidang konstruksi dan pelestarian warisan budaya.
Ia menjelaskan bahwa kolaborasi kedua negara bisa diarahkan pada pembangunan kembali atau revitalisasi bangunan-bangunan bersejarah yang memiliki nilai budaya penting.
“Kerja sama pembangunan dan revitalisasi bangunan bersejarah dapat menjadi poin utama kerja sama bilateral ini. Di bidang kebudayaan, termasuk di antaranya penataan kota lama atau kota tua di berbagai daerah Indonesia sangat potensial. Gagasan ini bisa kita eksplorasi lebih lanjut dengan stakeholder, kementerian dan lembaga Indonesia lain,” imbuh Fadli.
Sementara itu, Chairman of China State Construction International Holdings Limited (CSCI), Gao Bo, menekankan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya soal desain dan konstruksi semata. Menurutnya, pemahaman terhadap budaya lokal juga menjadi faktor penting dalam setiap proyek pembangunan.
“Selain desain, konsep, dan perencanaan, sebuah pembangunan juga harus mengetahui karakteristik budaya lokal kawasan tersebut,"katanya.
Fadli menegaskan bahwa Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk terus mengembangkan ekosistem budaya nasional melalui pembangunan infrastruktur budaya, revitalisasi situs bersejarah, serta pelestarian warisan budaya secara berkelanjutan.
Pertemuan antara kedua pihak ini diharapkan menjadi langkah awal yang penting dalam mempererat hubungan diplomatik Indonesia dan China. Selain itu, kerja sama tersebut juga diharapkan mampu mendukung pelestarian budaya dan warisan sejarah dengan pendekatan yang lebih modern sehingga dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026