News

Pakar Soroti Tantangan Kesepakatan Damai AS–Iran di Tengah Eskalasi di Lebanon

Jakarta (KABARIN) - Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala menilai kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran belum benar-benar menjamin stabilitas di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, kesepakatan yang sempat terbangun antara Amerika Serikat dan Iran memang membuka harapan baru bagi perdamaian, namun situasi di lapangan masih rentan karena adanya eskalasi konflik di Lebanon.

“Meskipun AS dan Iran sudah menyetujui kesepakatan damai, prospeknya di Timur Tengah masih diragukan,” kata Darmansjah dalam keterangan di Jakarta, Minggu.

Ia menjelaskan bahwa setelah bertahun-tahun diwarnai ketegangan, sanksi, dan ancaman militer, kedua negara akhirnya mulai membuka ruang diplomasi melalui penandatanganan nota kesepahaman atau MoU.

Langkah tersebut dinilai penting karena dapat menurunkan ketegangan yang selama ini menjadi salah satu sumber instabilitas di kawasan Teluk dan Timur Tengah.

Namun, harapan tersebut kini menghadapi tantangan serius setelah kembali terjadi serangan Israel di Lebanon selatan hanya beberapa waktu setelah kesepakatan dicapai.

Israel menurutnya menjadi faktor yang memperumit situasi karena berpotensi mengganggu proses normalisasi hubungan AS dan Iran serta memicu respons lanjutan dari pihak terkait di kawasan.

Ia juga menyoroti posisi Amerika Serikat yang berada dalam situasi sulit karena harus menyeimbangkan hubungan strategis dengan Israel sekaligus menjaga komitmen diplomatik dengan Iran.

Darmansjah menegaskan bahwa keberhasilan kesepakatan damai sangat bergantung pada kemampuan semua pihak untuk menahan eskalasi dan mengutamakan jalur diplomasi.

“Perdamaian membutuhkan lingkungan regional yang kondusif, pengendalian eskalasi, dan komitmen semua pihak untuk mengedepankan diplomasi dibandingkan penggunaan kekuatan militer,” kata Darmansjah.

Pewarta: Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: