Kigali, Rwanda (KABARIN) - Republik Demokratik Kongo pada Minggu (21/6) melaporkan jumlah kasus Ebola terkonfirmasi telah menembus lebih dari 1.000 seiring ditemukannya infeksi baru di sejumlah wilayah terdampak.
Kementerian Kesehatan setempat menyebut total kasus terkonfirmasi kini mencapai 1.003 sejak wabah resmi diumumkan pada 15 Mei. Dari jumlah tersebut, 254 pasien meninggal dunia, dengan tingkat kematian mencapai 25,3 persen.
"Meski terjadi peningkatan, tim tanggap darurat terus melakukan investigasi aktif, pengawasan epidemiologi, dan tindakan pencegahan di daerah yang terdampak," kata kementerian itu.
Menteri Kesehatan Roger Kamba menjelaskan bahwa penanganan wabah masih terus difokuskan di provinsi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan. Ia juga menyebut adanya peningkatan jumlah pasien sembuh serta penurunan tingkat pelacakan kontak di lapangan.
Hingga kini, sedikitnya 100 pasien telah dinyatakan sembuh, sementara 365 pasien lainnya masih menjalani isolasi maupun perawatan di fasilitas kesehatan.
Sebelumnya, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika memperingatkan bahwa jika penularan tidak segera dikendalikan, wabah ini berpotensi lebih parah dibanding epidemi Ebola di Afrika Barat pada 2014–2016 yang menewaskan lebih dari 11.000 orang.
Di sisi lain, otoritas kesehatan Kongo menegaskan bahwa upaya komunikasi publik, peningkatan diagnosis, dan penanganan kasus terus diperkuat untuk menekan laju penyebaran.
Para peneliti dari laboratorium kesehatan nasional Kongo dan Uganda serta Institut Penelitian Biomedis Nasional Kongo juga melaporkan bahwa galur Ebola yang saat ini beredar, yakni Ebola Bundibugyo, berasal dari penularan baru dari hewan liar.
Temuan ini sekaligus menepis dugaan bahwa wabah tersebut merupakan sisa dari penularan lama yang tidak terdeteksi atau terus menyebar secara tersembunyi.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026