Washington (KABARIN) - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menilai ancaman Iran memiliki senjata nuklir jauh lebih berbahaya dibandingkan risiko terjadinya depresi ekonomi global.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan dampak ekonomi dunia jika konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas.
"Senjata nuklir lebih penting daripada depresi. Depresi itu sangat buruk. Senjata nuklir akan menyebabkan depresi jauh lebih cepat," kata Trump kepada wartawan.
Menurut Trump, prioritas utama pemerintahannya adalah memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir, meskipun langkah tersebut berpotensi menimbulkan konsekuensi ekonomi yang luas.
Ia juga menegaskan bahwa Amerika Serikat siap mengambil tindakan jika Iran tidak mematuhi kesepakatan yang telah disepakati kedua negara.
"Jika Iran tidak mematuhi ketentuan memorandum yang telah ditandatangani, AS akan melakukan apa yang harus dilakukan," tegas Trump.
Pernyataan tersebut muncul setelah Amerika Serikat dan Iran pekan lalu menandatangani sebuah memorandum secara daring yang mengatur pengakhiran konflik militer yang dimulai pada 28 Februari.
Kesepakatan itu menjadi salah satu langkah penting dalam upaya meredakan ketegangan yang selama beberapa bulan terakhir menjadi perhatian dunia internasional.
Selain mengatur penghentian konflik, dokumen tersebut juga memuat tenggat waktu bagi Amerika Serikat untuk mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Di sisi lain, Iran juga diminta memulihkan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi global.
Sebelum kesepakatan tercapai, perwakilan Iran dan Amerika Serikat menggelar pembicaraan yang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar. Pertemuan tersebut berlangsung di kawasan resor Burgenstock, Swiss, pada 21 Juni.
Meski memorandum telah ditandatangani, hubungan kedua negara masih menjadi sorotan karena sejumlah isu strategis, termasuk keamanan regional dan program nuklir Iran, masih menjadi perhatian komunitas internasional.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026