Sekarang kita sudah tutup kurang lebih 240 yang kita tutup. Nggak ada yang untung, rugi terus
Jakarta (KABARIN) - Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan pemerintah berencana menutup sekitar 700 hingga 800 perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dinilai tidak sehat dan terus merugi sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi pengelolaan aset negara.
Dalam sambutannya pada Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama 2026 di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa, Prabowo mengaku terkejut dengan jumlah BUMN yang mencapai lebih dari seribu entitas.
Ia menilai banyak perusahaan negara tersebut tidak memberikan keuntungan, bahkan menjadi beban bagi keuangan negara.
“Saya cukup terkejut, ternyata BUMN kita ini lebih dari seribu. Sekarang kita sudah tutup kurang lebih 240 yang kita tutup. Nggak ada yang untung, rugi terus,” kata Prabowo, dikutip dari siaran Sekretariat Presiden.
Presiden menegaskan, ke depan pemerintah akan melanjutkan langkah penutupan hingga sekitar 700–800 BUMN yang dinilai tidak efisien.
“Ujungnya akan menutup kurang lebih 800 perusahaan negara, minimal 700 lah,” ujarnya.
Prabowo menjelaskan, setiap BUMN memiliki struktur direksi dan komisaris yang membebani anggaran negara, meskipun perusahaan tidak menghasilkan keuntungan. Menurutnya, penutupan sebagian BUMN yang sudah dilakukan telah memberikan penghematan signifikan.
“Sudah kita tutup, kita menghemat triliunan. Hanya dari nutup perusahaan-perusahaan yang nggak benar,” katanya.
Ia menegaskan langkah tersebut merupakan bagian dari reformasi tata kelola BUMN agar lebih profesional dan tidak terus merugikan negara.
Selain itu, Badan Pengaturan BUMN disebut menargetkan penyederhanaan jumlah BUMN dan anak usaha dari sekitar 1.100 menjadi 257 perusahaan melalui proses konsolidasi di berbagai sektor, termasuk logistik, asuransi, semen, hingga perhotelan.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026