News

Iran Tegaskan Tak Ada Negosiasi dengan AS dalam Waktu Dekat

Istanbul (KABARIN) - Pemerintah Iran memastikan belum ada agenda negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat. Fokus utama Teheran saat ini bukan membuka pembicaraan baru, melainkan memastikan seluruh isi nota kesepahaman penghentian perang benar-benar dijalankan.

Penegasan itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran sekaligus juru bicara tim perunding, Esmaeil Baqaei, dalam konferensi pers pada Senin (29/6).

Menurut Baqaei, pemerintah Iran saat ini memprioritaskan implementasi seluruh poin dalam nota kesepahaman yang telah disepakati bersama AS.

Ia menjelaskan, Iran juga terus mengawasi pelaksanaan sejumlah komitmen yang sudah mulai berjalan. Salah satunya adalah Pasal 10 yang mengatur ekspor minyak Iran.

Baqaei mengatakan Amerika Serikat telah menerbitkan lisensi yang diperlukan sesuai ketentuan dalam pasal tersebut. Kini, Iran terus memantau pelaksanaan kebijakan itu agar berjalan sesuai kesepakatan.

Selain itu, proses pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan juga mulai memasuki tahap implementasi. Hal tersebut diatur dalam Pasal 11 nota kesepahaman.

Untuk menindaklanjuti proses tersebut, delegasi teknis Iran dijadwalkan bertolak ke Doha, Qatar, pada akhir pekan ini.

Meski begitu, Baqaei menegaskan kunjungan tersebut bukan untuk menggelar negosiasi baru dengan Amerika Serikat.

Ia juga membantah laporan yang menyebut kemungkinan adanya pertemuan antara pejabat tinggi Iran dan Amerika Serikat di Doha selama kunjungan delegasi berlangsung.

"Tidak akan ada pertemuan negosiasi dengan pihak Amerika pada tingkat apa pun dalam beberapa hari ke depan," katanya.

Baqaei menambahkan bahwa Iran juga belum memasuki tahap pembahasan kesepakatan final.

Menurutnya, berdasarkan Pasal 13 dalam nota kesepahaman, pembicaraan mengenai perjanjian komprehensif baru bisa dimulai setelah implementasi Pasal 1, 4, 5, 10, dan 11 selesai dijalankan serta terus berlangsung sesuai kesepakatan.

Sebagai informasi, nota kesepahaman Islamabad yang terdiri atas 14 poin mulai berlaku pada 18 Juni. Dokumen tersebut ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah berminggu-minggu ketegangan di kawasan akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran.

Dalam kesepakatan itu, Pasal 1 mengatur gencatan senjata dan penghentian operasi militer. Sementara Pasal 4 membahas front Lebanon, termasuk penarikan pasukan Israel, sedangkan Pasal 5 mengatur pelayaran sementara serta koordinasi keamanan di Selat Hormuz.

Adapun Pasal 10 mengatur ekspor minyak Iran, sementara Pasal 11 membahas akses Teheran terhadap aset-aset negara yang selama ini dibekukan.

Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: