Ankara (KABARIN) - Gelombang protes yang berlangsung di Iran selama delapan hari terakhir memicu kekacauan besar, menurut laporan HRANA. Setidaknya 20 orang tewas dan hampir 1.000 orang ditangkap sejak aksi massa dimulai, meskipun kemungkinan jumlah sebenarnya lebih tinggi.
Demonstrasi tersebar di 78 kota dan 26 provinsi, meliputi unjuk rasa jalanan, pemogokan buruh, dan aksi mahasiswa di setidaknya 17 universitas. Aparat keamanan dikerahkan besar-besaran untuk membubarkan massa, tapi protes tetap berlanjut.
Korban tewas datang dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari mahasiswa, buruh, hingga warga sipil, dengan rentang usia 16 hingga 45 tahun. Selain itu, setidaknya 51 orang terluka akibat tembakan peluru karet dan butiran peluru plastik. Salah satu korban termasuk anggota aparat keamanan sendiri.
HRANA juga melaporkan pengacara Nasser Rezaei Ahangarany dipukuli saat aksi di Khorramabad pada 3 Januari. Di Malekshahi, sedikitnya 30 orang dilaporkan terluka.
Penangkapan terjadi di banyak kota termasuk Yazd, Isfahan, Kermanshah, Shiraz, dan Behbahan, baik individu maupun kelompok, sebagian dikaitkan dengan aktivitas di media sosial dan sebagian lagi saat bentrokan di jalan.
Aksi protes ini dipicu oleh tekanan ekonomi, inflasi tinggi, menurunnya daya beli masyarakat, pasar yang tidak stabil, dan ketidakamanan pekerjaan. Banyak demonstran menyoroti kesulitan ekonomi, kebijakan pemerintah, dan tuntutan kebebasan sipil.
Protes tidak hanya terjadi di kota besar, tapi juga meluas ke kota kecil dan diikuti berbagai lapisan masyarakat.
Sumber: ANAD