Trump Bilang Venezuela Tidak Akan Gelar Pemilu dalam 30 Hari ke Depan

waktu baca 3 menit

Washington (KABARIN) - Presiden AS Donald Trump pada Senin, 5 Januari 2026, menyampaikan bahwa Venezuela tidak akan mengadakan pemilu baru dalam waktu 30 hari ke depan.

"Kita harus memperbaiki negara itu terlebih dahulu. Anda tidak bisa mengadakan pemilu. Tidak mungkin rakyat bisa memberikan suara," kata Trump dalam sebuah wawancara dengan NBC News.

"Ini akan membutuhkan waktu. Kita harus memulihkan kesehatan negara itu," tambahnya.

Trump menjelaskan aksi militer AS pada Sabtu, 3 Januari 2026, telah berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Ibu Negara Cilia Flores. Ia berjanji untuk menegakkan kendali Amerika atas negara itu untuk sementara waktu, termasuk dengan menurunkan pasukan AS jika diperlukan.

Dia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak sedang berperang dengan Venezuela.

“Tidak. Kita sedang berperang dengan orang-orang yang menjual narkoba. Kita sedang berperang dengan orang-orang yang mengosongkan penjara mereka ke negara kita dan mengosongkan pecandu narkoba mereka dan mengosongkan lembaga-lembaga kesehatan mental mereka ke negara kita,” kata Trump.

Selain itu, Trump menyebut AS bisa membantu perusahaan minyak membangun kembali infrastruktur energi Venezuela. Ia memperkirakan proses ini bisa selesai dalam waktu kurang dari 18 bulan.

"Saya pikir kita bisa melakukannya dalam waktu kurang dari itu, tetapi akan membutuhkan banyak uang. Sejumlah besar uang harus dikeluarkan, dan perusahaan minyak akan membiayainya, dan kemudian mereka akan mendapatkan penggantian dari kita atau melalui pendapatan," kata Trump.

NBC News menyebut beberapa pejabat AS yang akan membantu mengawasi keterlibatan Amerika di Venezuela antara lain Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller.

Ketika ditanya siapa yang akan bertanggung jawab atas Venezuela, Trump hanya menjawab satu kata: "Saya."

Maduro mengaku tidak bersalah pada Senin, 5 Januari 2026, di pengadilan New York atas tuduhan federal termasuk terorisme narkoba dan konspirasi untuk mengimpor kokain. Ia menegaskan masih menjadi pemimpin Venezuela.

Wakil Presiden Delcy Rodriguez resmi dilantik pada hari yang sama sebagai presiden sementara setelah penangkapan Maduro. Trump mengatakan Rodriguez bekerja sama dengan pejabat AS, tapi menegaskan tidak ada kontak sebelum penangkapan Maduro.

"Tidak, bukan begitu," katanya, menambahkan bahwa keputusan tentang sanksi terhadap Rodriguez akan segera ditentukan apakah tetap berlaku atau dicabut.

Ketika ditanya soal kesepakatan dengan pejabat Venezuela untuk menyingkirkan Maduro, Trump berkata: "Ya, karena banyak orang ingin membuat kesepakatan, tetapi kami memutuskan untuk melakukannya dengan cara ini."

Trump tidak mengungkap apakah ia berbicara langsung dengan Rodriguez, tapi mencatat bahwa Rubio "berbicara dengannya dengan lancar dalam bahasa Spanyol" dan "hubungan mereka sangat kuat."

Ia juga menyinggung kemungkinan operasi militer kedua di Venezuela jika Rodriguez berhenti bekerja sama, meskipun ia tidak mengharapkan hal itu dan awalnya memperkirakan harus mengirim pasukan AS lagi.

"Kami siap melakukannya. Sebenarnya, kami mengantisipasinya," kata Trump.

Trump juga menekankan bahwa ia tidak meminta otorisasi kongres baru untuk operasi Sabtu pagi. Ia menambahkan bahwa Kongres mendukung langkah-langkah yang telah dilakukan.

"Kami mendapat dukungan yang baik dari Kongres. Dan Kongres tahu apa yang kami lakukan selama ini, tetapi kami mendapat dukungan yang baik dari Kongres. Mengapa mereka tidak mendukung kami?" katanya.

Sumber: ANAD

Bagikan

Mungkin Kamu Suka