Beirut (KABARIN) - Harapan agar situasi di perbatasan Lebanon dan Israel kembali tenang setelah gencatan senjata tampaknya belum benar-benar terwujud. Dalam 10 hari pertama sejak kesepakatan berlaku, sekitar 65 orang dilaporkan tewas dan hingga 170 lainnya mengalami luka-luka.
Harian Lebanon Al-Akhbar pada Selasa melaporkan, data tersebut berasal dari Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon dan berbagai laporan lapangan. Selain korban jiwa, tercatat sekitar 180 hingga 230 dugaan pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh Israel selama periode tersebut.
Laporan itu menyebut pelanggaran yang terjadi mencakup serangan udara, tembakan artileri, operasi darat, hingga aktivitas drone yang berlangsung secara intensif di sejumlah wilayah.
Di sisi lain, seorang sumber keamanan Lebanon mengatakan kepada Xinhua pada Selasa bahwa sejumlah pemukim Israel dilaporkan menyeberang ke wilayah Lebanon selatan dengan perlindungan militer Israel.
Sumber yang sama juga menyebut tentara Israel menggunakan sebuah drone untuk mengibarkan bendera Israel di sisi timur Dataran Tinggi Ali al-Taher.
Sementara itu, kantor berita resmi Lebanon, National News Agency (NNA), melaporkan bahwa artileri Israel kembali menembaki beberapa kawasan di sepanjang perbatasan kedua negara.
Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon dalam pernyataan resminya juga mengungkapkan bahwa sejak 2 Maret, jumlah korban akibat serangan Israel telah mencapai 4.320 orang meninggal dunia. Selain itu, sebanyak 12.203 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Perkembangan ini terjadi meskipun Lebanon dan Israel telah menandatangani kesepakatan kerangka kerja pada 26 Juni. Kesepakatan tersebut bertujuan untuk memberlakukan gencatan senjata sekaligus menurunkan eskalasi konflik di sepanjang wilayah perbatasan selatan Lebanon.
Namun, berbagai laporan mengenai dugaan pelanggaran di lapangan menunjukkan bahwa situasi keamanan di kawasan tersebut masih jauh dari benar-benar stabil.
Sumber: Xinhua