ESDM Genjot Produksi Minyak nasional untuk Antisipasi Situasi di Venezuela

waktu baca 2 menit

Sebagai antisipasi, kami terus meningkatkan cadangan strategis minyak nasional, optimalisasi produksi

Jakarta (KABARIN) - Pemerintah lewat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus memacu produksi minyak nasional sebagai langkah antisipasi menghadapi gejolak geopolitik global, termasuk situasi politik yang tengah memanas di Venezuela.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan, Indonesia memilih bersikap waspada dengan memperkuat ketahanan energi dalam negeri, salah satunya lewat peningkatan cadangan strategis minyak nasional.

“Sebagai antisipasi, kami terus meningkatkan cadangan strategis minyak nasional, optimalisasi produksi,” ujar Dwi Anggia ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa.

Upaya peningkatan produksi tersebut dilakukan lewat berbagai cara, mulai dari optimalisasi teknologi hingga perbaikan metode produksi. Pemerintah mendorong penggunaan teknik seperti fracking, enhanced oil recovery (EOR), serta horizontal drilling guna mendongkrak produksi minyak nasional.

Tak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan sejumlah insentif untuk menarik minat investor di sektor hulu migas. Langkah ini mencakup reformasi fiskal, percepatan proses perizinan, serta peningkatan investasi eksplorasi di wilayah frontier atau wilayah yang belum banyak digarap.

Pemerintah juga mengupayakan peningkatan produksi dengan mengaktifkan kembali sekitar 4.500 sumur minyak idle yang selama ini tidak beroperasi.

“Kondisi ini (situasi Venezuela) terus dipantau,” ucap Anggia.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada dampak langsung dari gejolak politik di Venezuela terhadap pasokan maupun harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.

“Kita sumber crude-nya itu bukan dari sana. Jadi dari wilayah lain. Jadi masih stabil,” kata Laode usai penutupan Posko Nasional Sektor ESDM Nataru 2025-2026 di Jakarta, Senin (5/1).

Meski begitu, pemerintah tetap melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan situasi global, termasuk kemungkinan pengaruhnya terhadap harga minyak dunia.

“Antisipasi itu selalu ada,” ujar dia.

Pernyataan tersebut merespons situasi politik di Venezuela yang belakangan menjadi sorotan dunia. Sejumlah media internasional melaporkan Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke Ibu Kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu (3/1).

Dalam pernyataannya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa pasukan AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya. Menyusul peristiwa itu, Pemerintah Venezuela langsung menetapkan status darurat nasional.

Sejumlah negara pun bereaksi. Presiden Kolombia Gustavo Petro menyerukan pertemuan darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) guna menegaskan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan negara, larangan penggunaan kekerasan, serta penyelesaian konflik secara damai. Rusia dan Iran, yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Venezuela, juga mengecam keras serangan militer AS tersebut.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka