Jakarta (KABARIN) - Sering merasa cepat lelah, badan pegal tanpa sebab jelas, atau mudah sakit meski sudah cukup istirahat? Banyak orang menganggap keluhan seperti ini sebagai hal sepele.
Padahal, bisa jadi tubuh sedang memberi tanda adanya gangguan autoimun, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan justru menyerang tubuh sendiri. Karena gejalanya tidak selalu khas dan muncul perlahan, penyakit autoimun sering terlambat dikenali.
Itulah sebabnya, penting untuk memahami bagaimana diagnosis dilakukan dan kapan waktu yang tepat untuk pergi ke dokter agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.
Berikut penjelasan mengenai cara dokter mendiagnosis penyakit autoimun serta waktu yang tepat untuk memeriksakan diri ke dokter.
Diagnosis autoimun
Menentukan diagnosis penyakit autoimun bukanlah hal yang mudah, terutama pada tahap awal. Pasalnya, keluhan yang muncul sering bersifat umum dan mirip dengan gejala berbagai penyakit lainnya.
Karena itu, dokter biasanya memerlukan pemeriksaan tambahan, seperti tes darah dan pemeriksaan autoantibodi, untuk memastikan kondisi pasien. Jenis pemeriksaan yang dilakukan dapat berbeda-beda, menyesuaikan dengan dugaan penyakit autoimun yang dialami.
Namun secara umum, proses diagnosis mencakup penelusuran riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, evaluasi parameter darah, pemeriksaan autoantibodi, serta pemeriksaan pencitraan atau radiologi bila dibutuhkan.
Dengan demikian, penegakan diagnosis penyakit autoimun dilakukan melalui beberapa tahapan pemeriksaan. Salah satu tes yang sering digunakan adalah pemeriksaan ANA (antinuclear antibody), yang membantu dokter menilai adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh.
Selain itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi peradangan, guna mengetahui apakah terdapat proses inflamasi dalam tubuh yang berkaitan dengan penyakit autoimun.
Kapan waktu yang tepat untuk berobat dan pergi ke dokter?
Sejumlah penyakit autoimun kerap menunjukkan tanda-tanda awal yang serupa. Beberapa di antaranya adalah tubuh mudah terasa lelah, otot pegal atau sendi terasa nyeri, muncul ruam pada kulit, demam yang datang dan pergi, pembengkakan pada sendi atau area wajah, rambut rontok, sulit berkonsentrasi, hingga sensasi kesemutan di tangan atau kaki.
Jika mengalami keluhan-keluhan tersebut, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan ke dokter, terutama bagi kamu yang memiliki faktor risiko penyakit autoimun. Konsultasi medis menjadi semakin penting apabila gejala tidak juga membaik, justru bertambah parah, atau muncul keluhan tertentu yang lebih spesifik.
Sumber: ANTARA