Kue Dongkal, Tumpeng Manis Khas Betawi yang Mulai Langka

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Indonesia dikenal sebagai negara dengan ragam kuliner tradisional yang sangat kaya.

Dari Sabang hingga Merauke, setiap daerah di Indonesia mempunyai kuliner tradisional khasnya tersendiri mulai dari hidangan utama, aneka keripik, jajanan pasar dan kue-kue khas, serta beragam minuman dingin atau hangat.

Namun, seiring dengan berkembangnya zaman, popularitas kuliner tradisional semakin meredup karena harus bersaing dengan jajanan kekinian yang lebih digemari.

Padahal, cita rasa kuliner tradisional tidak kalah nikmat dan menyimpan nilai budaya yang penting sehingga perlu dijaga dan dilestarikan agar tidak tergerus oleh zaman.

Salah satu kuliner tradisional yang patut kita jaga dan lestarikan bersama adalah kue dongkal.

Filosofi kue dongkal

Kue dongkal merupakan kue tradisional khas Betawi yang adonan dasarnya memiliki kemiripan dengan adonan kue putu, yakni terbuat dari tepung beras yang dihaluskan, diisi oleh gula aren, kemudian dikukus hingga matang.

Nama “dongkal” sendiri diketahui berasal dari cara pengirisan kue yang dicongkel dengan centong.

Kue dongkal sudah dikenal sejak 1940-an. Dahulu, kue ini biasanya disajikan saat masyarakat Betawi membuat gedengan, yakni ikatan padi kering yang dipanen beserta batangnya pada malam hari setelah dijemur seharian.

Selain itu kue dongkal juga kerap hadir pada acara-acara khitanan, pernikahan, syukuran pembangunan rumah, dan gotong royong masyarakat.

Pada awalnya, kue dongkal dibuat dari tepung gaplek yang terbuat dari singkong. Namun, pada 1970-an kue dongkal berbahan tepung gaplek kian sulit ditemukan karena banyak masyarakat yang lebih memilih menggunakan tepung beras.

Selain di Jakarta, kue dongkal dapat pula ditemukan di beberapa daerah di Jawa Barat seperti Bandung, Sukabumi, Bogor, dan Cianjur, di mana kue ini lebih dikenal dengan nama awug.

Tumpeng manisnya Betawi

Kue dongkal kerap dijuluki sebagai “tumpeng manis”. Alasannya tak lain karena bentuknya yang mengerucut seperti tumpeng.

Bentuk kerucut yang menjadi khas kue dongkal ini berasal dari kukusan anyaman bambu yang dalam bahasa Sunda disebut dengan aseupan. Bentuk kerucut ini berfungsi mempertahankan uap agar kue dongkal cepat matang saat dikukus.

Aseupan diisi oleh adonan tepung beras dan gula aren secara selang seling. Kemudian, aseupan yang berisi adonan kue dongkal dimasukkan ke dalam dandang atau seeng untuk dikukus hingga matang.

Setelah matang, kue dongkal akan tampak menyerupai tumpeng putih dengan garis-garis belang yang berasal dari gula aren.

Apabila sudah siap disajikan, kue dongkal diiris menjadi potongan-potongan kecil agar lebih mudah untuk dinikmati. Sebagai pelengkap, bagian atasnya ditaburi parutan kelapa sehingga menciptakan perpaduan cita rasa manis dan gurih.

Bedanya dengan kue putu

Meskipun kue dongkal memiliki kemiripan dengan kue putu, terdapat perbedaan signifikan diantara keduanya.

Dari segi warna, kue dongkal berwarna putih karena tidak ditambahkan pasta daun suji atau daun pandan yang menciptakan warna hijau pada kue putu.

Perbedaan juga terlihat pada proses pembuatannya. Kue dongkal dikukus di dalam kukusan anyaman berbentuk kerucut, sementara kue putu biasanya dibuat di dalam cetakan berbentuk tabung dari potongan bambu atau pipa.

Sayangnya, saat ini kue dongkal sudah semakin jarang disajikan dalam berbagai acara tradisional. Meski begitu, kue ini masih bisa ditemukan di beberapa pasar. Kue dongkal merupakan menu yang sangat cocok dihidangkan saat sarapan, karena teksturnya yang ringan, tetapi tetap mengenyangkan.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka