Jakarta (KABARIN) - Kementerian Kebudayaan menjadikan penguatan peran museum sebagai salah satu fokus transformasi kebijakan kebudayaan yang akan dilakukan tahun ini.
"Museum menjadi salah satu fokus transformasi kebijakan. Museum tak lagi kita pandang sebagai gudang artefak, melainkan ruang edukasi publik, ruang dialog sejarah, wahana diplomasi budaya, dan museum juga menjadi ruang hidup yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan," kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat jumpa per di Jakarta, Kamis.
Sepanjang 2025, kunjungan ke museum dan cagar budaya di bawah naungan Kementerian Kebudayaan mencapai 4,32 juta orang.
Saat ini sebanyak 516 museum di seluruh Indonesia telah diregistrasi dan distandardisasi oleh Kementerian Kebudayaan, sebagian di antaranya mendapatkan dukungan revitalisasi melalui kolaborasi pemerintah pusat, daerah, sektor swasta, dan filantropi.
“Diperlukan kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, kota, dan juga pihak swasta, korporasi, bahkan dengan para filantropis. Filantropis ini menjadi penting untuk menggerakkan museum-museum menjadi ruang edukasi dan membuat museum lebih menarik dan menghidupkan narasinya,” ujar dia.
Kementerian juga menyebutkan akan merevitalisasi keraton di seluruh wilayah di Indonesia.
Fadli Zon menegaskan kebijakan Kementerian Kebudayaan tahun ini diarahkan untuk menjadikan kebudayaan sebagai pemersatu, penguat identitas, sekaligus sumber kesejahteraan yang tak hanya fokus pada pelindungan, tapi, juga pengembangan dan pemanfaatan kebudayaan secara berkelanjutan.
“Ke depan kita mengharapkan kebudayaan bukan satu hal yang statis atau tangible asset (aset berwujud), melainkan sebagai daya hidup masyarakat yang terus bergerak. Dalam kerangka ini, komunitas budaya kita tempatkan sebagai aktor utama,” ujar Fadli Zon.
Negara hadir sebagai dengan membangun ekosistem, memperluas akses, meningkatkan kapasitas, serta menjembatani ketimpangan antarwilayah dan kelompok sosial. Pendekatan seperti itu dinilai penting agar kreativitas dan dinamika budaya tetap
tumbuh.
“Karena itu, kebijakan kebudayaan harus adaptif terhadap perubahan zaman dan teknologi, tapi juga tetap berpijak pada nilai. Tanpa adaptasi, kebudayaan bisa tertinggal, bisa dilupakan, bisa kehilangan para pelakunya. Namun tanpa nilai, kebudayaan bisa kehilangan makna, bisa kehilangan arah,” kata Menbud Fadli Zon.
Sumber: ANTARA