Jakarta (KABARIN) - Guru Besar Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Abdul Mujib mengingatkan bahwa jamaah haji cukup rawan mengalami tekanan mental selama menjalani ibadah di Tanah Suci. Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan lingkungan yang terjadi secara tiba-tiba.
Menurut Mujib, jamaah yang terbiasa hidup mandiri di rumah harus beradaptasi dengan pola hidup bersama di asrama selama di Arab Saudi. Perubahan ini bukan hal sepele dan bisa memicu stres jika tidak disikapi dengan baik.
"Karena dengan perubahan waktu, perubahan sosial, perubahan segalanya itu, dengan kondisi yang awalnya serba mandiri di rumah, kemudian harus dengan akomodasi bersama, itu akan menjadi masalah," ujar Mujib saat memberikan materi dalam diklat calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji 1447 H atau 2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
Ia menekankan pentingnya kesiapan mental para petugas haji sejak awal. Petugas perlu berangkat dengan asumsi bahwa jamaah berpotensi mengalami gangguan psikologis, bukan untuk menakut-nakuti, tetapi agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.
Tekanan psikologis jamaah juga bisa datang dari banyak faktor lain. Perbedaan cuaca yang ekstrem, budaya yang tidak familiar, hingga perubahan rutinitas harian menjadi tantangan tersendiri selama menjalankan ibadah haji.
Mujib mencontohkan kondisi jamaah yang biasanya menikmati privasi di rumah, lalu harus berbagi kamar tidur, kamar mandi, dan menyesuaikan diri dengan makanan yang mungkin tidak sesuai selera. Jika menumpuk, hal-hal kecil ini bisa memicu emosi berlebihan atau bahkan depresi.
Karena itu, ia mendorong semua petugas haji memiliki kemampuan dasar pertolongan pertama psikologis. Petugas tidak harus menjadi psikolog, namun setidaknya mampu menenangkan jamaah yang terlihat panik atau tertekan.
"Setidak-tidaknya ada sesuatu yang umum bisa dikuasai. Misalnya, bagaimana bisa menenangkan orang yang lagi stres atau depresi," kata Mujib.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap jamaah memiliki latar belakang berbeda. Jamaah dari wilayah perkotaan bisa saja bereaksi berbeda dibanding jamaah dari pedesaan. Kepekaan membaca kondisi sosial dan karakter jamaah menjadi kunci dalam memberikan respons yang tepat.
Jika tekanan mental yang dialami jamaah tergolong berat, Mujib menegaskan petugas harus segera mengarahkan jamaah tersebut ke tenaga profesional atau tim kesehatan agar mendapatkan penanganan lanjutan.
Sumber: ANTARA