Kasus Campak Masih Ditemukan di DKI, Ini Pemicu Utamanya

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Penyakit campak di DKI Jakarta ternyata masih terus ditemukan hingga sekarang. Salah satu penyebab utamanya adalah imunisasi anak yang belum dilakukan secara lengkap.

Dokter Spesialis Anak RSUD Pasar Rebo, dr. Arifianto, Sp.A, Subsp.Neuro(K) menyebut hampir setiap pekan dirinya masih menemui pasien anak dengan campak yang kondisinya cukup berat. Bahkan, tidak sedikit yang harus dibantu alat ventilator atau dirawat di ruang perawatan intensif anak atau PICU.

"Campak di DKI belum berakhir sampai sekarang. Setelah diperiksa, mayoritas tidak lengkap imunisasinya," kata dia dalam siniar bertema "Benarkah Anak Paling Rentan Terkena Flu?" yang diadakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Rabu.

Ia menegaskan kondisi ini menunjukkan bahwa campak sebenarnya bisa dicegah. Perlindungan tubuh anak bisa terbentuk dengan baik jika imunisasi dilakukan sesuai anjuran sejak dini.

"Campak itu penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin. Vaksin harus lengkap. Imunisasi lengkap terbukti meningkatkan daya tahan tubuh," kata dia.

Arifianto menjelaskan, tubuh anak yang belum banyak terpapar virus dan bakteri perlu diperkenalkan melalui vaksin. Dengan begitu, antibodi bisa terbentuk lebih awal sehingga tubuh lebih siap melawan penyakit saat benar benar terpapar.

Untuk imunisasi campak rubela, terdapat tiga kali pemberian. Dosis pertama diberikan saat anak berusia 9 bulan, lalu dilanjutkan dosis penguat pada usia 18 bulan dan kembali diberikan saat anak berumur 6 sampai 7 tahun.

Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta menunjukkan, pada September 2025 terdapat 218 kasus campak tanpa laporan kematian. Salah satu wilayah dengan temuan cukup banyak berada di Kelurahan Kapuk dengan total 38 kasus positif.

Sebagai upaya pengendalian, Dinkes DKI Jakarta menggelar Outbreak Response Immunization atau ORI. Program imunisasi massal ini menyasar sekitar 9.000 anak sebagai langkah penanganan Kejadian Luar Biasa.

Hingga September 2025, cakupan imunisasi di Jakarta tercatat baru mencapai sekitar 77,22 persen. Angka ini masih menjadi pekerjaan rumah agar perlindungan terhadap campak bisa lebih merata.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka