Deteksi Dini Jadi Langkah Penting untuk Tangani Tumor Payudara

waktu baca 4 menit

Jakarta (KABARIN) - Deteksi dini lewat pemeriksaan rutin menjadi langkah penting untuk menangani tumor payudara. Pasalnya, kelainan pada payudara tidak selalu menimbulkan rasa sakit pada tahap awal sehingga sering kali diabaikan.

Dokter spesialis bedah onkologi di Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Ivan Rinaldy, mengatakan banyak pasien baru memeriksakan diri setelah menemukan benjolan yang sebenarnya sudah ada sejak lama.

“Banyak pasien datang karena menemukan benjolan yang sebenarnya sudah ada cukup lama, tetapi tidak terasa sakit sehingga dianggap tidak berbahaya. Padahal, tumor payudara terutama yang ganas tidak selalu menimbulkan nyeri pada tahap awal. Karena itu, setiap benjolan baru yang menetap harus diperiksakan,” kata dr. Ivan Rinaldy dalam keterangan di Jakarta, Kamis.

Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) menunjukkan kanker payudara masih menjadi salah satu masalah kesehatan serius di Indonesia. Pada 2022 tercatat sekitar 66.271 kasus baru kanker payudara dengan angka kematian mencapai 22.598 orang. Sementara itu, prevalensi lima tahun mencapai sekitar 209.748 orang, yaitu jumlah pasien yang masih hidup dalam lima tahun setelah diagnosis.

Ivan menjelaskan tumor payudara sering kali diawali dengan perubahan kecil yang tidak langsung disadari. Ada beberapa tanda yang perlu kamu waspadai, seperti munculnya benjolan baru di payudara atau ketiak, perubahan bentuk atau ukuran payudara, hingga perubahan pada kulit payudara yang terlihat menebal atau berkerut.

Selain itu, gejala lain yang juga perlu diperhatikan adalah puting yang tertarik ke dalam serta keluarnya cairan dari puting yang tidak berkaitan dengan proses menyusui.

Untuk mendeteksi masalah lebih awal, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah SADARI atau periksa payudara sendiri. Pemeriksaan ini dianjurkan dilakukan sebulan sekali, idealnya pada hari ketujuh hingga kesepuluh setelah menstruasi.

Bagi perempuan yang sudah menopause, pemeriksaan dapat dilakukan pada tanggal yang sama setiap bulan agar lebih mudah diingat.

Selain SADARI, ada juga SADANIS atau pemeriksaan payudara secara klinis oleh tenaga medis. Dalam pemeriksaan ini, dokter akan mengevaluasi kondisi payudara sekaligus memeriksa kelenjar di area ketiak dan sekitar tulang selangka.

Jika ditemukan indikasi tertentu, dokter dapat menyarankan pemeriksaan lanjutan seperti ultrasonografi (USG), mammografi, atau magnetic resonance imaging (MRI) payudara.

“Deteksi dini melalui pemeriksaan rutin seperti SADARI dan SADANIS sangat penting untuk menemukan masalah lebih awal. Dengan teknologi yang semakin maju, kita dapat mendeteksi kelainan dengan lebih tepat dan lebih cepat, memberikan kesempatan lebih besar untuk pengobatan yang efektif,” ujar dr. Ivan.

Penanganan tumor payudara sendiri sangat bergantung pada jenis dan stadium penyakitnya. Pada tumor jinak seperti fibroadenoma atau kista, pasien biasanya hanya perlu melakukan pemantauan secara berkala.

Namun jika benjolan terus membesar atau menimbulkan keluhan, dokter dapat menyarankan prosedur pengangkatan melalui operasi kecil.

Sementara itu, pada kasus tumor ganas atau kanker payudara, pengobatan dilakukan dengan pendekatan multidisiplin. Artinya, pasien akan ditangani oleh tim dokter dari berbagai bidang, seperti spesialis bedah onkologi, radiologi, patologi, hingga ahli kanker lainnya.

Metode terapinya juga bisa beragam, mulai dari operasi seperti lumpektomi atau mastektomi, kemoterapi, radioterapi, hingga terapi hormon dan imunoterapi.

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, mengatakan pihaknya telah menyediakan layanan Breast Clinic di Women’s Health Center untuk membantu pemeriksaan dan penanganan tumor payudara secara terpadu.

“Kami memahami bahwa menemukan benjolan pada payudara seringkali menimbulkan rasa cemas dan ketakutan bagi banyak orang. Karena itu, kami menghadirkan layanan yang tidak hanya lengkap dari sisi fasilitas dan teknologi medis, tetapi juga memberikan rasa aman dan pendampingan bagi pasien dalam setiap tahap pemeriksaan hingga pengobatan,” ujarnya.

Dengan meningkatnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan rutin, peluang untuk mendeteksi tumor payudara lebih awal juga semakin besar. Langkah sederhana seperti mengenali perubahan pada tubuh sendiri bisa menjadi kunci penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius di kemudian hari.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka