Saya menegaskan bahwa kemiskinan tidak hanya soal keterbatasan ekonomi, tetapi juga soal runtuhnya martabat, kesehatan mental, dan perlindungan sosial, terutama bagi perempuan dan anak
Jakarta (KABARIN) - Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina menilai peristiwa meninggalnya seorang siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, harus menjadi pengingat serius bagi negara untuk membereskan persoalan kemiskinan struktural.
Menurut Selly, kasus siswa berinisial YBS yang diduga nekat mengakhiri hidup karena kesulitan membeli buku dan alat tulis murah mencerminkan kondisi kemiskinan yang sudah menyentuh sisi paling dasar kehidupan.
“Saya menegaskan bahwa kemiskinan tidak hanya soal keterbatasan ekonomi, tetapi juga soal runtuhnya martabat, kesehatan mental, dan perlindungan sosial, terutama bagi perempuan dan anak,” katanya di Jakarta, Rabu.
Ia menilai kejadian tersebut menunjukkan belum maksimalnya peran negara dalam memastikan hak anak atas pendidikan dan kehidupan yang layak. Kebutuhan sekolah yang seharusnya sederhana justru menjadi hambatan besar bagi keluarga miskin karena masalah struktural yang belum terselesaikan.
Selly juga menyoroti realitas di banyak keluarga prasejahtera, di mana tekanan ekonomi sering kali ditanggung ibu, sementara anak-anak menjadi kelompok paling rentan yang terdampak secara mental dan sosial. Kondisi ini, menurutnya, tidak boleh diabaikan oleh negara.
Ia mengingatkan bahwa konstitusi sudah menegaskan pendidikan sebagai hak dasar warga negara. Namun ketika masih ada biaya tidak langsung seperti buku dan perlengkapan sekolah yang memberatkan, berarti kehadiran negara belum sepenuhnya dirasakan.
“Tragedi ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan belum sepenuhnya berpihak pada kelompok paling rentan,” ujar legislator dari Dapil Jabar VIII itu.
Lebih lanjut, Selly menekankan bahwa pendidikan harus benar-benar inklusif, bermartabat, dan bebas dari beban yang bisa menghilangkan harapan anak-anak dari keluarga miskin.
Ia pun mendorong penguatan program perlindungan sosial yang terintegrasi, mulai dari bantuan sosial yang adaptif, pemenuhan kebutuhan dasar anak, hingga pendampingan psikososial bagi keluarga rentan.
“Negara tidak boleh berhenti pada bantuan sesaat, tetapi harus memperkuat kapasitas keluarga miskin, terutama yang memiliki anak usia sekolah, melalui penguatan ekonomi, akses pendidikan yang utuh, dan pendampingan sosial berbasis kebutuhan nyata di lapangan, agar kemiskinan tidak terus diwariskan lintas generasi,” kata Selly.
Sumber: ANTARA