Haedar Nashir Dorong Puasa Jadi Ruang Persatuan Umat

waktu baca 3 menit

Yogyakarta (KABARIN) - Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak umat Islam menjadikan puasa sebagai sarana memperkuat kebersamaan sosial, terutama di tengah potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah.

Ia meminta umat Islam menyikapi perbedaan tersebut dengan sikap dewasa, terbuka, dan penuh semangat tasamuh atau saling menghargai. Menurutnya, perbedaan adalah bagian dari ruang ijtihad yang seharusnya tidak memicu konflik antar sesama.

“Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” kata Haedar dalam keterangannya di Yogyakarta, Selasa.

Haedar menilai selama umat Islam belum memiliki satu sistem kalender tunggal, perbedaan penentuan hari besar keagamaan masih sangat mungkin terjadi. Karena itu, sikap arif dan bijaksana menjadi kunci dalam menyikapi kondisi tersebut.

Ia menekankan bahwa esensi utama puasa adalah membangun ketakwaan, baik secara pribadi maupun bersama-sama sebagai umat. Fokus ibadah, menurutnya, seharusnya tidak tergeser oleh perdebatan teknis soal perbedaan awal Ramadhan.

Melalui peningkatan takwa kepada Allah SWT, Haedar berharap hubungan sosial di masyarakat semakin kuat, dengan semakin banyak nilai kebaikan yang ditebarkan kepada sesama manusia dan lingkungan.

Ia juga mengingatkan agar berbagai persoalan tidak sampai mengaburkan tujuan utama puasa sebagai sarana pembentukan ketakwaan.

Haedar berpesan agar Ramadhan dijalani dengan suasana tenang, damai, dan penuh kedewasaan, tanpa terjebak dalam hiruk pikuk perbedaan yang justru bisa mengganggu makna ibadah.

“Dalam konteks yang lebih luas, Ramadhan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menebar segala kebaikan yang makin luas,” ujar dia.

Ia menambahkan, puasa Ramadhan seharusnya menjadi media untuk menjaga dan memperbaiki akhlak, baik dalam kehidupan pribadi maupun ruang publik, sekaligus membentuk karakter umat agar mampu berkembang menjadi umat yang lebih baik.

Dalam kehidupan sosial, Haedar menegaskan bahwa puasa memiliki peran penting sebagai perekat kebersamaan masyarakat. Puasa, menurutnya, melatih pengendalian diri, termasuk saat menghadapi provokasi, konflik, dan potensi pertengkaran.

“Dengan berbagai macam informasi, postingan, yang kira-kira memberi suasana panas dalam kehidupan sosial kebangsaan kita. Maka puasa harus menjadi kanopi sosial kita,” katanya.

Ia menilai setiap Muslim yang menjalankan puasa semestinya mampu menjadi pembawa kedamaian di tengah masyarakat, sekaligus menjadi contoh dalam membangun kehidupan sosial yang sehat.

Haedar juga mengajak umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk mendorong kemajuan hidup, sejalan dengan nilai takwa yang berujung pada peningkatan martabat manusia di berbagai bidang kehidupan.

“Takwa itu juga puncaknya adalah perbaikan martabat hidup tertinggi, maka umat Islam harus menjadi umat yang maju dalam berbagai kehidupan, baik spiritual, moral, sosial, ekonomi, politik dan berbagai aspek yang lain menuju peradaban utama,” tutur Haedar.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka