IHSG Berpotensi Turun Jelang Akhir Pekan karena Investor Lakukan "Profit Taking"

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia diprediksi bergerak turun pada Jumat seiring pelaku pasar melakukan aksi profit taking menjelang akhir pekan.

IHSG dibuka melemah 23,95 poin atau 0,29 persen ke level 8.211,31. Sementara itu, indeks LQ45 yang terdiri dari 45 saham unggulan turun 2,99 poin atau 0,36 persen ke posisi 834,90.

"Kombinasi risiko fiskal, sensitivitas terhadap headline rating, serta arus dana terkait rebalancing membuat pasar domestik lebih rentan terhadap profit-taking dibanding kawasan," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Dari dalam negeri, Liza menjelaskan pasar masih tertekan oleh peringatan S&P Global Ratings yang menyoroti kenaikan beban bunga utang pemerintah yang "sangat mungkin" melampaui 15 persen dari pendapatan negara, sehingga meningkatkan risiko penurunan peringkat.

Kekhawatiran ini muncul bersamaan dengan defisit APBN Januari 2026 yang tercatat Rp54,6 triliun, meski pemerintah berhasil menghimpun Rp50,8 triliun dari penerbitan obligasi global denominasi Euro dan Yuan dengan bid-to-cover 3,4 kali dan yield 4-5 persen, menandakan permintaan tetap solid.

Tekanan di pasar juga diperkuat oleh faktor teknikal rebalancing MSCI yang berlaku efektif setelah penutupan 27 Februari 2026, dengan saham INDF keluar dari MSCI Global Standard dan masuk MSCI Small Cap, sementara ACES dan CLEO keluar dari Small Cap. Review MSCI berikutnya dijadwalkan diumumkan 12 Mei 2026 dan efektif pada 1 Juni 2026.

Dari pasar global, sentimen ketidakpastian AI, perubahan ekspektasi suku bunga, risiko geopolitik, dan tarif ikut membayangi. Narasi AI kembali menjadi perhatian karena pasar mempertanyakan apakah belanja modal besar di sektor ini bisa memberikan return sesuai harapan, sementara standar kejutan positif untuk Nvidia dianggap sangat tinggi setelah kenaikan lebih dari 1.400 persen sejak Oktober 2022.

Di sisi moneter, futures sudah memperhitungkan pemangkasan suku bunga 25 bps oleh The Fed pada September 2026. Dengan inflasi inti PCE AS sebesar 3 persen, jeda kebijakan moneter dianggap wajar, meski calon Chairman The Fed Kevin Warsh belum tentu bersikap dovish.

Ketidakpastian kebijakan perdagangan juga ikut membayangi, setelah Mahkamah Agung AS mengubah kerangka hukum tarif, sementara pemerintah AS tetap menargetkan kemungkinan tarif baru hingga 15 persen melalui jalur hukum alternatif.

Selain itu, pembicaraan teknis AS dan Iran dijadwalkan di Vienna pekan depan, dengan Presiden AS Donald Trump memperingatkan konsekuensi jika tidak ada kemajuan berarti.

Pergerakan bursa global Kamis kemarin menunjukkan sebagian besar indeks AS melemah, antara lain S&P 500 turun 0,54 persen ke 6.908,86, Nasdaq turun 1,16 persen ke 25.034,37, dan Dow Jones naik tipis 0,03 persen ke 49.499,20.

Di Asia pagi ini, indeks Nikkei turun 226,39 poin atau 0,39 persen ke 58.527, Shanghai turun 0,82 poin atau 0,02 persen ke 4.145,81, Hang Seng naik 69,98 poin atau 0,27 persen ke 26.451,00, dan Straits Times turun 2,04 poin atau 0,04 persen ke 4.962,34.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka