IHSG Melemah di Tengah Aksi Risk Off dan Kenaikan Harga Minyak Global

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan pada Rabu pagi dibuka di zona merah. Tekanan muncul seiring investor cenderung mengurangi aset berisiko dan memilih bersikap lebih hati hati di tengah kenaikan harga minyak dunia.

Saat pembukaan perdagangan, IHSG turun 43,39 poin atau 0,55 persen ke level 7.896,38. Indeks LQ45 yang berisi saham unggulan juga ikut melemah 0,41 persen ke posisi 802,31.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai secara teknikal posisi IHSG sudah mendekati area penopang penting.

“Secara teknikal, IHSG selangkah lagi mencapai area support 7.900- 7.840, brace your portofolio untuk kemungkinan jebol lebih dalam lagi (bearish flag). Volatilitas masih akan tinggi dalam dua pekan ini, sikap wait and see masih lebih banyak disarankan,” ujar Liza.

Menurut dia, sentimen global saat ini dipenuhi suasana risk off setelah konflik di Timur Tengah memasuki hari keempat. Eskalasi serangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kekhawatiran pasar.

Serangan terhadap fasilitas energi dan kapal tanker di kawasan Teluk serta ancaman penutupan Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan energi dunia membuat pelaku pasar waspada. Harga minyak Brent naik ke kisaran 81 hingga 82 dolar AS per barel, sedangkan WTI menyentuh 74 sampai 75 dolar AS per barel setelah sebelumnya sempat melonjak hampir 10 persen dalam satu hari.

"Lonjakan harga minyak memperkuat kekhawatiran inflasi global karena energi merupakan komponen penting dalam biaya produksi dan transportasi," ujar Liza.

Ia menambahkan pasar mulai melihat potensi konflik berlangsung lebih lama sehingga risiko inflasi energi meningkat dan pertumbuhan ekonomi global bisa tertekan.

"Lonjakan harga minyak dipandang sebagai shock pasokan energi yang berpotensi mendorong inflasi global dan memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama," ujar Liza.

Kondisi itu membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed bergeser. Pelaku pasar kini tidak lagi sepenuhnya yakin suku bunga akan dipangkas dalam waktu dekat, bahkan hingga pertengahan 2026.

Di tengah situasi tersebut, dolar AS menguat sebagai aset aman dan mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terhadap euro, poundsterling, dan yen Jepang. Sementara harga emas justru terkoreksi akibat penguatan dolar dan aksi ambil untung.

Ketegangan geopolitik juga mulai berdampak pada jalur perdagangan global, terutama sektor energi dan logistik. Ancaman terhadap Selat Hormuz berpotensi mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan volume besar LNG. Gangguan pelayaran mendorong kenaikan tarif pengiriman serta harga energi.

Sejumlah bandara utama di Timur Tengah seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi turut terdampak. Lebih dari 21 ribu penerbangan dilaporkan dibatalkan sehingga puluhan ribu penumpang terlantar.

Sementara itu Presiden AS Donald Trump menyatakan U.S. Development Finance Corporation akan memberikan asuransi risiko politik untuk perdagangan maritim di kawasan Teluk, khususnya pengiriman energi. Ia juga menegaskan Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker di Selat Hormuz bila diperlukan.

Dari dalam negeri, Bursa Efek Indonesia bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia mulai mempublikasikan data kepemilikan saham di atas satu persen setiap bulan melalui situs resmi BEI. Langkah ini diharapkan memberi transparansi tambahan bagi investor dalam mengambil keputusan.

Tekanan pasar tidak hanya terjadi di Indonesia. Bursa Eropa kompak melemah pada perdagangan sebelumnya, begitu juga Wall Street di Amerika Serikat. Di Asia, mayoritas indeks pagi ini bergerak turun seperti Nikkei, Shanghai, dan Hang Seng, meski ada beberapa yang masih mencatat penguatan terbatas.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka