Jepang Akan Jual 8,5 Juta Kiloliter Cadangan Minyak Negara

waktu baca 3 menit

Tokyo (KABARIN) - Pemerintah Jepang bersiap mengambil langkah besar untuk menahan lonjakan harga energi. Mulai Kamis (27/3), Tokyo akan melepas cadangan minyak negara setara kebutuhan selama 30 hari.

Kementerian Perindustrian Jepang mengungkapkan, total sekitar 8,5 juta kiloliter minyak bakal dijual dari 11 fasilitas penyimpanan yang tersebar di seluruh negeri. Langkah ini jadi bagian dari upaya cepat pemerintah menjaga stabilitas ekonomi di tengah krisis yang memanas di Timur Tengah.

Sebelumnya, Jepang juga sudah lebih dulu melepas cadangan minyak dari sektor swasta setara 15 hari kebutuhan pada pekan lalu. Tak cuma itu, negara mitra seperti Uni Emirat Arab ikut membantu dengan melepas cadangan minyak setara lima hari kebutuhan di Jepang hingga Selasa depan. Minyak tersebut nantinya akan disalurkan ke perusahaan-perusahaan energi di Negeri Sakura.

Perdana Menteri Sanae Takaichi menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam menghadapi situasi ini. Jepang akan terus mengintensifkan jalur diplomasi dengan berbagai negara untuk menekan dampak krisis terhadap ekonomi domestik.

Kondisi ini memang cukup krusial. Jepang dikenal sangat bergantung pada impor energi, dengan lebih dari 90 persen pasokan minyak mentahnya berasal dari Timur Tengah. Situasi makin rumit sejak Iran memblokade Selat Hormuz usai serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.

Dampaknya langsung terasa. Harga minyak dunia melonjak, yen melemah terhadap dolar AS, dan risiko inflasi di dalam negeri meningkat. Bahkan, harga bensin reguler di Jepang sempat menyentuh rekor tertinggi 190,80 yen per liter (sekitar Rp20.000) pekan lalu. Pemerintah kini menargetkan harga bisa ditekan ke kisaran 170 yen per liter.

Menteri Keuangan Satsuki Katayama menilai gejolak ini tidak lepas dari faktor spekulasi pasar.

“Kami akan mengambil semua langkah yang diperlukan di berbagai sektor untuk menghadapi spekulasi tersebut,” ujarnya.

Di sisi lain, sektor industri juga mulai kena imbas. Pasokan naphtha, bahan baku penting untuk plastik dan serat sintetis, mengalami gangguan. Perusahaan Jepang pun terpaksa mencari alternatif pasokan dari Amerika, Amerika Latin, hingga Asia, meski harganya jauh lebih mahal.

Upaya menjaga stabilitas pasokan energi juga dibahas di level global. Dalam pertemuan di Washington pekan lalu, PM Takaichi dan Presiden AS Donald Trump sepakat pentingnya menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz agar distribusi energi dunia tetap lancar.

Sebagai lanjutan, Takaichi dijadwalkan bertemu Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol di Tokyo pada Rabu untuk memperkuat kerja sama menjaga stabilitas pasokan minyak global.

Langkah Jepang ini jadi sinyal kuat bahwa krisis energi bukan cuma isu regional, tapi sudah berdampak luas ke ekonomi dunia. Buat kamu yang ngikutin isu global, ini salah satu momen penting yang bisa ikut memengaruhi harga energi, bahkan sampai ke kehidupan sehari-hari.

Sumber: KYO

Bagikan

Mungkin Kamu Suka