Festival Lopis Raksasa Pekalongan Jadi Tradisi Perekat Silaturahmi Warga

waktu baca 5 menit

Lopis bukan sekadar makanan tradisional. Panganan ini menjadi medium yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, menyatukan nilai religius, sosial, dan budaya dalam satu sajian yang tampak sederhana, namun sarat makna.

Pekalongan (KABARIN) - Tradisi tahunan Festival Lopis Raksasa kembali digelar di kawasan Krapyak Kidul Gang 8 (Gang Sembawan), Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, sebagai bagian dari kemeriahan Pekan Syawalan 2026.

Sejak H+2 Idulfitri, warga setempat telah mulai menyiapkan lopis berukuran raksasa tersebut. Proses pembuatannya tidak main-main karena lebih dari lima kuintal beras ketan digunakan untuk menghasilkan satu lopis raksasa yang menjadi ikon perayaan ini.

Di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Lebaran seolah belum benar-benar usai pada dua hari pertama Idul Fitri. Masih ada satu fase perayaan yang justru paling dinanti masyarakat, yakni tradisi Syawalan yang tahun ini puncaknya jatuh pada Sabtu (28/3).

Pada momen inilah warga Kelurahan Krapyak melestarikan tradisi turun-temurun membuat lopis, panganan khas berbahan dasar beras ketan yang sederhana, tapi sarat makna kebersamaan dan rasa syukur.

Sejak hari kedua Lebaran 2026, wilayah Kelurahan Krapyak mulai dipenuhi para pedagang lopis. Dari jalan protokol hingga gang-gang permukiman, aroma ketan kukus berpadu dengan kelapa parut menjadi penanda khas bahwa suasana Syawalan tengah berlangsung.

Kehadiran lopis pun bukan sekadar jualan musiman. Ia menjadi penanda waktu sosial, isyarat halus bahwa masa libur Lebaran perlahan menuju akhir, sementara masyarakat bersiap kembali pada ritme keseharian.

Di balik tampilannya yang sederhana, lopis menyimpan filosofi yang mendalam. Dalam tradisi Jawa pesisir, termasuk masyarakat Pekalongan, lopis dimaknai sebagai lepat atau pengakuan kesalahan. Panganan ini menjelma menjadi simbol budaya yang hidup, menyatukan rasa, ingatan, dan makna kebersamaan sekaligus mempererat silaturahmi.

Bentuknya yang padat dan lengket merepresentasikan eratnya tali persaudaraan setelah saling memaafkan. Sementara balutan daun pisang yang membungkus ketan mencerminkan harapan agar manusia mampu menjaga laku hidupnya tetap rapi, tertata, dan bernilai.

Lopis dibuat dari beras ketan yang, setelah direbus, menjadi lengket dan menyatu. Ini melambangkan persatuan atau kraket (erat). Warnanya yang putih dimaknai sebagai simbol kebersihan dan kesucian, selaras dengan semangat kembali fitri dalam suasana Lebaran.

Bungkus daun pisang yang digunakan juga memiliki makna simbolik, sebagai perlambang Islam dan kemakmuran, bahwa ajaran Islam senantiasa menumbuhkan kebaikan serta menjaga karunia Tuhan dalam kehidupan manusia. Karena itu, daun pisang yang dipilih tidak boleh terlalu tua maupun terlalu muda, sebab keduanya akan memengaruhi cita rasa lopis.

Ikatan pembungkus lopis menggunakan serat pelepah pisang yang melambangkan kekuatan. Maknanya, kondisi yang telah dicapai setelah kembali fitri perlu dijaga agar tidak luntur, bahkan diharapkan terus bertambah dan meningkat dalam kebaikan.

Pengikat tersebut sekaligus menjadi simbol keterikatan manusia dalam menjalin silaturahmi antar-Muslim. Pada hari ketujuh Syawal, lopis ini kemudian dibagikan kepada warga dan para pengunjung yang datang menyaksikan prosesi pemotongan panganan tradisional tersebut.

Sejarah

Tradisi Syawalan dengan pembuatan lopis di Krapyak pertama kali dipelopori oleh KH Abdullah Sirodj, seorang ulama setempat yang masih memiliki garis keturunan Tumenggung Bahurekso, Senopati Mataram.

Pada mulanya, KH Abdullah Sirodj secara rutin melaksanakan puasa Syawal. Praktik ibadah ini kemudian diikuti masyarakat Krapyak dan warga Pekalongan pada umumnya. Akibatnya, meskipun suasana Lebaran telah tiba, tradisi bersilaturahmi belum sepenuhnya dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang masih melanjutkan puasa Syawal.

Barulah pada hari kedelapan Syawal, atau Sabtu (28/3), suasana Lebaran benar-benar terasa hidup di tengah masyarakat.

Tradisi Syawalan sendiri memiliki akar panjang dalam sejarah Islam di Jawa. Sejumlah literatur menyebutkan bahwa Syawalan berkembang sejak masa dakwah Wali Songo, ketika para ulama memadukan ajaran Islam dengan kearifan lokal agar lebih mudah diterima masyarakat.

Di Pekalongan yang sejak abad ke-17 dikenal sebagai kota pelabuhan dan pusat pertemuan berbagai budaya, tradisi ini tumbuh kuat sebagai ruang silaturahmi lanjutan setelah Idul Fitri sekaligus ungkapan syukur atas berakhirnya Ramadan.

Tak heran jika lopis kemudian menjadi sajian utama. Berbeda dengan daerah lain, lopis khas Pekalongan dikenal berukuran besar dan dimasak dalam waktu panjang, bahkan hampir satu hari penuh.

Proses tersebut bukan sekadar teknik memasak, melainkan juga mencerminkan nilai kesabaran dan ketekunan, dua prinsip hidup yang dijunjung tinggi oleh masyarakat pesisir.

Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan Djunaid, mengimbau masyarakat agar tidak memaknai tradisi pemotongan lopis secara keliru hingga mengarah pada praktik syirik. Menurutnya, tradisi lopisan justru menjadi warisan budaya yang menghadirkan keberkahan dan kebahagiaan, khususnya bagi warga Krapyak sebagai tuan rumah.

Tradisi pemotongan lopis yang telah berlangsung lebih dari satu abad ini diharapkan dapat dikemas semakin meriah. Selain menjadi ajang silaturahmi, perayaan tersebut juga dinilai sebagai aset potensial untuk menarik kunjungan wisatawan.

Dengan demikian, tradisi Syawalan yang dipadukan dengan sektor pariwisata diharapkan mampu mendorong peningkatan pendapatan asli daerah.

Sementara itu, Humas Festival Lopis Raksasa, Iwan Kurniawan, menjelaskan bahwa proses pembuatan lopis telah dimulai sejak Senin (23/3) dan dilakukan secara bertahap hingga mencapai tahap akhir.

"Pembuatan dimulai hari Senin pukul 06.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Kemudian dilanjutkan lagi hingga malam berikutnya untuk proses pembalikan dan nantinya akan dilakukan pengentasan," katanya.

Secara keseluruhan, proses pembuatan lopis raksasa ini memakan waktu sekitar tiga hari penuh atau 3 x 24 jam. Seluruh tahapan dikerjakan dengan ketelitian tinggi dan kekompakan warga, mengingat ukuran lopis yang jauh lebih besar dibandingkan lopis pada umumnya.

Lopis bukan sekadar makanan tradisional. Panganan ini menjadi medium yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, menyatukan nilai religius, sosial, dan budaya dalam satu sajian yang tampak sederhana, namun sarat makna.

Di tengah arus modernisasi, keberadaan lopis Syawalan di Pekalongan menjadi bukti bahwa tradisi tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga terus hidup dan dimaknai ulang oleh generasi yang setia menjaganya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka