Oto

Dominasi Jepang Mulai Tergeser Seiring EV China Mulai Kuasai Segmen

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu menilai merek mobil asal China mulai menggeser dominasi produsen Jepang di sejumlah segmen pasar otomotif Indonesia, khususnya kendaraan listrik (EV) dan kelas menengah.

Ia mengatakan, meski mobil Jepang masih kuat di segmen tertentu, tetapi tekanan dari merek China semakin terasa.

“China belum akan menggeser popularitas mobil Jepang di segmen SUV entry level, MPV entry level dan Low Cost Green Car (LCGC) Internal Combustion Engine (ICE) konvensional dalam 3 sampai 5 tahun ke depan,” kata Yannes ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pergeseran sudah terjadi di beberapa segmen strategis.

Ia menyebut, merek China sudah menggeser posisi di segmen EV, SUV, dan hatchback level menengah.

Yannes juga meyakini pabrikan-pabrikan tersebut akan semakin memperkuat citra merek di pasar Indonesia.

Menurut dia, salah satu faktor pendorong utama adalah meningkatnya biaya bahan bakar minyak (BBM), yang membuat kendaraan listrik semakin menarik secara ekonomi.

Tren ini diperkirakan akan semakin kuat di kota-kota besar, seiring bertambahnya pilihan model EV dari produsen China dengan harga yang relatif terjangkau.

“Harga BBM yang mahal membuat biaya operasional EV entry level terlihat semakin jauh lebih hemat. Tren ini akan semakin menguat di kota besar dan mendorong adopsi EV China di berbagai kota lebih cepat,” katanya.

Walau begitu, Yannes mengakui persepsi konsumen terhadap kualitas jangka panjang mobil China masih beragam.

Ia menyebutkan hingga saat ini pandangan masyarakat masih mengkhawatirkan nilai jual kembali yang rendah, daya tahan mesin, serta ketersediaan suku cadang dalam jangka panjang.

Namun, ia menilai kondisi tersebut perlahan membaik seiring peningkatan layanan purnajual dan perakitan lokal.

Di sisi lain, masuknya merek China juga membawa dampak ganda bagi industri otomotif dalam negeri.

Ia menjelaskan, kehadiran pabrik CKD dari produsen China memang menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong transfer teknologi.

Namun di sisi lain, banyak pemasok komponen lokal tertekan karena produsen China cenderung menggunakan rantai pasok mereka sendiri.

Selain itu, implementasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) masih bersifat administratif, sehingga belum mendorong transfer teknologi inti yang dibutuhkan untuk memperkuat kemandirian industri otomotif nasional.

"Memang betul pabrik CKD China menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong transfer teknologi. Tetapi, banyak pemasok komponen lokal tertekan karena China sering menggunakan rantai pasoknya sendiri," katanya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka