Stop Jadi People Pleaser, Ini Alasan Kenapa Kamu Harus Mulai Berani

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) -

Kebiasaan selalu berusaha menyenangkan orang lain atau “people-pleasing” kerap dianggap sebagai sikap positif. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan perilaku ini justru dapat berdampak negatif bagi kesehatan mental dan kualitas hubungan.

Laman Psychology Today pada Rabu (22/4) melaporkan bahwa kecenderungan untuk terus mengatakan “ya” demi menghindari konflik atau mengecewakan orang lain dapat menjadi pola yang merugikan dalam jangka panjang.

Penelitian yang dilakukan oleh psikolog Emily Impett menemukan bahwa menekan emosi demi menyenangkan pasangan berkaitan dengan menurunnya kesejahteraan emosional, baik bagi diri sendiri maupun pasangan. Perilaku yang tidak autentik ini juga dapat menurunkan kualitas hubungan.

Selain itu, kebiasaan tersebut dapat memicu rasa frustrasi dan ketidakpuasan. Dalam studi lanjutan, Impett menunjukkan bahwa pengorbanan yang dilakukan karena takut konflik justru mengurangi kepuasan dalam hubungan dibandingkan tindakan yang didasari keinginan tulus.

Peneliti lain, Dana Jack, mengaitkan fenomena “self-silencing” atau menekan kebutuhan diri dengan risiko depresi. Dalam penelitiannya, individu yang tidak mampu menyampaikan kebutuhan saat konflik memiliki risiko kesehatan yang lebih tinggi, termasuk potensi dampak serius dalam jangka panjang.

Temuan serupa juga muncul dalam studi yang dipublikasikan di PsyCH Journal pada 2025, yang menunjukkan hubungan antara kecenderungan people-pleasing dengan rendahnya harga diri serta tingkat neurotisisme yang lebih tinggi.

Di lingkungan kerja, perilaku ini juga dapat membuat seseorang lebih rentan dimanfaatkan. Penelitian oleh Georgescu dan Bodislav (2025) menunjukkan bahwa individu yang sulit menolak permintaan cenderung menjadi target manipulasi, serta kesulitan mempertahankan batasan profesional.

Selain itu, people-pleasing dapat memicu paradoks dalam hubungan. Studi oleh Romero-Canvas (2013) menemukan bahwa individu yang terlalu berusaha menyenangkan pasangan justru lebih rentan mengalami kemarahan dan kekecewaan setelah menghadapi penolakan.

Para ahli menekankan bahwa alternatif dari people-pleasing bukanlah bersikap egois, melainkan menjadi lebih autentik. Tindakan membantu orang lain tetap penting, namun perlu didasari keinginan yang tulus, bukan rasa takut atau tekanan.

Pendekatan yang lebih jujur dan seimbang dinilai dapat membantu menjaga kesehatan mental sekaligus membangun hubungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Sumber: Psychology Today

Bagikan

Mungkin Kamu Suka