Jakarta (KABARIN) -
Rasa kesepian dalam hubungan bukan hal yang jarang terjadi, bahkan pada pasangan yang telah lama bersama. Kondisi ini sering muncul ketika kedekatan emosional perlahan memudar, meski hubungan masih berjalan.
Melansir laman Psychology Today yang tayang pada Rabu (22/4) waktu setempat, salah satu penyebab utama fenomena ini adalah terbentuknya “fantasy bond” atau ikatan semu dalam hubungan.
Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Robert Firestone, yang menjelaskan bahwa “fantasy bond” merupakan mekanisme pertahanan diri yang membuat seseorang merasa terhubung dengan pasangan, namun tanpa kedekatan emosional yang nyata.
Dalam hubungan jangka panjang, kondisi ini dapat muncul ketika pasangan mulai merasa rentan dan takut kehilangan. Untuk melindungi diri, mereka cenderung menggantikan kedekatan yang autentik dengan rutinitas dan rasa aman semu. Akibatnya, komunikasi menjadi dangkal dan kurang bermakna.
Seiring waktu, pasangan bisa kehilangan kemampuan untuk saling memahami secara emosional. Percakapan terbatas pada hal praktis, sementara empati dan ketertarikan terhadap satu sama lain menurun.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, peneliti kebahagiaan Sonja Lyubomirsky dan ilmuwan hubungan Harry Reis menawarkan pendekatan berbasis sains melalui lima pola pikir dalam buku mereka.
Pertama, keterbukaan atau berbagi, yakni menunjukkan sisi diri yang rentan dan jujur kepada pasangan.
Kedua, mendengarkan untuk memahami, yaitu memberi perhatian penuh pada pasangan tanpa menghakimi.
Selanjutnya adalah rasa ingin tahu yang tulus terhadap pasangan, termasuk memahami pikiran, perasaan, dan pengalaman mereka.
Keempat, sikap terbuka dan penuh empati, dengan menerima pasangan apa adanya.
Terakhir adalah menerima kompleksitas diri dan pasangan, termasuk kekurangan dan perbedaan yang ada.
Pendekatan ini mendorong pasangan untuk kembali melihat satu sama lain sebagai individu yang utuh, bukan sekadar bagian dari rutinitas hubungan.
Dengan membangun komunikasi yang lebih dalam dan autentik, pasangan dapat memulihkan kedekatan emosional dan mengembalikan kualitas hubungan yang sempat memudar.
Sumber: Psychology Today