Jakarta (KABARIN) - Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah RI (Amphuri) menilai kenaikan harga tiket pesawat umrah akibat situasi geopolitik di Timur Tengah mulai memberi tekanan besar terhadap industri perjalanan ibadah umrah di Indonesia.
Ketua Litbang DPP Amphuri Ulul Albab mengatakan lonjakan harga tiket bukan hanya berdampak pada bisnis travel umrah, tetapi juga memberatkan masyarakat yang ingin berangkat ke Tanah Suci.
“Harga tiket yang melonjak drastis bukan hanya mengganggu stabilitas bisnis penyelenggara umrah, tetapi juga memukul kemampuan masyarakat untuk menjalankan ibadah ke Tanah Suci,” ujar Ulul di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, Amphuri memahami maskapai penerbangan saat ini menghadapi kenaikan biaya operasional akibat perubahan jalur penerbangan, tingginya premi asuransi, risiko keamanan kawasan, hingga keterbatasan kursi penerbangan.
Meski begitu, ia menilai seluruh beban biaya tersebut tidak bisa langsung dibebankan sepenuhnya kepada jamaah dan penyelenggara umrah.
Ulul mengatakan travel umrah kini berada dalam posisi sulit karena harus menjaga harga tetap terjangkau demi mempertahankan kepercayaan jamaah. Di sisi lain, mereka juga tidak mampu terus-menerus menanggung lonjakan harga tiket dalam jumlah besar.
Akibatnya, banyak biro perjalanan umrah mengalami tekanan keuntungan yang cukup berat.
"Dampaknya akhirnya kembali kepada jamaah. Banyak calon jamaah adalah masyarakat kelas menengah yang telah menabung bertahun-tahun demi bisa berangkat umrah. Kenaikan biaya mendadak dapat membuat keberangkatan tertunda, bahkan gagal,” katanya.
Karena itu, Amphuri meminta pemerintah ikut turun tangan agar situasi tersebut tidak sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar.
Menurut Ulul, pemerintah perlu hadir bukan hanya sebagai regulator administrasi, tetapi juga pelindung ekosistem layanan ibadah umat.
Selain itu, maskapai penerbangan juga diharapkan melihat penerbangan umrah bukan sekadar jalur bisnis komersial, melainkan bagian dari pelayanan sosial dan keagamaan bagi masyarakat Muslim Indonesia.
Amphuri juga mengusulkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas industri umrah nasional. Salah satunya dengan membentuk forum khusus antara asosiasi umrah dan maskapai penerbangan guna membahas stabilisasi harga tiket selama masa krisis geopolitik.
Selain itu, pemerintah didorong menyediakan skema harga khusus atau kuota kursi penerbangan khusus umrah bagi penyelenggara resmi agar harga tiket lebih terkendali.
Amphuri juga mengusulkan kerja sama jangka panjang antara asosiasi dan maskapai melalui kontrak tahunan, block seat kolektif, hingga sistem harga bertingkat untuk mengurangi fluktuasi harga tiket.
Di sisi lain, pemerintah diminta memperluas alternatif penerbangan umrah lewat kerja sama dengan lebih banyak maskapai internasional agar persaingan harga menjadi lebih sehat.
Tak hanya itu, Ulul menilai insentif tertentu untuk penerbangan umrah selama masa krisis juga perlu dipertimbangkan, seperti kemudahan slot penerbangan, efisiensi biaya bandara, hingga dukungan regulasi.
"Krisis ini sesungguhnya harus menjadi ujian bersama. Maskapai membutuhkan keberlangsungan bisnis. Travel membutuhkan kepastian operasional. Jamaah membutuhkan perlindungan. Dan pemerintah membutuhkan stabilitas pelayanan ibadah umat,” kata dia.
Sumber: ANTARA