Konflik Bersenjata Perparah Situasi Wabah Ebola di RD Kongo

waktu baca 2 menit

Kinshasa (KABARIN) - Situasi wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo atau RD Kongo disebut semakin rumit karena dipengaruhi konflik bersenjata, pengungsian warga, hingga krisis pangan yang terjadi di wilayah tersebut.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kondisi di lapangan saat ini sangat kompleks dan membuat upaya pengendalian wabah menjadi jauh lebih sulit.

Berbicara kepada wartawan setibanya di Kinshasa, Kamis (28/5) malam waktu setempat, Tedros menyebut dirinya datang untuk memastikan masyarakat terdampak tahu bahwa mereka tidak menghadapi situasi ini sendirian.

"mereka tidak sendirian" dan WHO ada di sana untuk mendukung upaya respons.

WHO diketahui telah mengirim tim ke Bunia, ibu kota Provinsi Ituri di wilayah timur RD Kongo yang menjadi salah satu pusat penyebaran wabah. Tedros juga dijadwalkan mengunjungi Bunia pada Jumat (29/5) untuk melihat langsung kondisi di lapangan.

Menurut Tedros, konflik dan situasi keamanan menjadi tantangan terbesar dalam menangani wabah Ebola kali ini. Ia kembali menyerukan gencatan senjata di wilayah-wilayah terdampak agar proses penanganan kesehatan bisa berjalan lebih maksimal.

Selain konflik, ketidakpercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan juga ikut memperumit penanganan wabah.

Tedros juga menanggapi soal kebijakan beberapa negara yang mulai memberlakukan pembatasan perjalanan bagi warga dari RD Kongo. Ia menegaskan WHO tidak merekomendasikan larangan perjalanan karena dampaknya dinilai tidak terlalu efektif.

"larangan perjalanan tidak disarankan oleh WHO," katanya.

Menurutnya, pembatasan perjalanan mungkin hanya bisa menunda penyebaran selama beberapa hari saja. Ia menilai langkah paling efektif adalah memperkuat pengendalian wabah langsung di sumber penyebaran.

"Pendekatan terbaik adalah mengintensifkan langkah-langkah pengendalian di sumbernya dan memberikan dukungan," tuturnya.

Tedros juga mengingatkan bahwa larangan perjalanan justru bisa berdampak negatif bagi kesehatan global. Negara yang terbuka melaporkan wabah bisa merasa dihukum sehingga berpotensi membuat mereka enggan melaporkan kasus baru lebih awal.

Berdasarkan laporan situasi terbaru dari Kementerian Kesehatan RD Kongo yang dirilis Rabu (27/5), lebih dari 1.000 kasus suspek Ebola dan 238 kematian diduga terkait wabah tersebut telah dilaporkan di wilayah timur negara itu.

Wabah kali ini menjadi epidemi Ebola ke-17 yang pernah terjadi di RD Kongo. Hasil tes laboratorium menunjukkan virus yang menyebar merupakan galur Bundibugyo, salah satu jenis Ebola yang tergolong cukup langka.

WHO sendiri telah menetapkan wabah ini sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional sejak 17 Mei lalu. Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika juga menetapkan situasi darurat keamanan kesehatan masyarakat tingkat benua.

Sumber: Xinhua

Bagikan

Mungkin Kamu Suka