Dubai (KABARIN) - Harga minyak dunia diperkirakan tidak akan langsung kembali stabil meski Selat Hormuz dibuka kembali dalam waktu dekat. Para analis menilai pasar energi masih membutuhkan waktu antara empat hingga delapan pekan untuk benar-benar pulih dari dampak gangguan yang terjadi di jalur pelayaran strategis tersebut.
Laporan Gulf News yang berbasis di Uni Emirat Arab (UEA) pada Rabu (17/6) menyebutkan sejumlah faktor masih menjadi penghambat normalisasi pasar. Mulai dari antrean kapal tanker yang menumpuk, biaya asuransi pengiriman yang melonjak, tingkat persediaan yang rendah, hingga ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi.
Dalam beberapa waktu terakhir, harga minyak mentah Brent sempat melonjak mendekati 120 dolar AS per barel selama periode konflik. Namun, harga kemudian turun ke kisaran 80 dolar AS per barel setelah pasar mulai memperhitungkan kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta rencana pembukaan kembali Selat Hormuz.
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa reaksi cepat di pasar berjangka tidak serta-merta membuat kondisi di pasar minyak fisik kembali normal. Aktivitas distribusi dan pengiriman minyak masih membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya.
Selat Hormuz sendiri memiliki peran yang sangat penting dalam perdagangan energi global. Jalur laut ini menangani sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
Karena itu, pelaku pasar masih menunggu bukti bahwa kapal-kapal tanker dapat kembali beroperasi secara aman dan konsisten sebelum benar-benar menghapus premi risiko geopolitik yang selama ini ikut mendorong kenaikan harga minyak.
Krisis yang terjadi juga kembali mengingatkan dunia akan besarnya ketergantungan terhadap Selat Hormuz sebagai jalur distribusi energi utama. Situasi ini diperkirakan akan mendorong negara-negara Teluk untuk mempercepat pengembangan jaringan pipa dan rute ekspor alternatif guna meningkatkan keamanan pasokan energi di masa depan.
Sementara itu, perkembangan positif datang dari upaya perdamaian antara AS, Pakistan, dan Iran. Ketiga negara pada Senin (15/6) dini hari waktu setempat mengumumkan finalisasi nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) untuk mengakhiri konflik setelah melalui proses negosiasi selama beberapa pekan.
Berdasarkan rencana yang telah diumumkan, MoU tersebut akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat (19/6).
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pemerintah AS akan memastikan Selat Hormuz kembali dibuka sepenuhnya mulai Jumat (19/6). Jika langkah tersebut berjalan sesuai rencana, pasar energi global diharapkan bisa berangsur pulih, meski proses menuju stabilitas harga minyak diperkirakan masih membutuhkan waktu beberapa pekan ke depan.
Sumber: Xinhua