Jakarta (KABARIN) - Belajar bahasa baru ternyata bukan hanya soal menambah kosakata atau bisa berbicara dalam bahasa lain. Aktivitas ini juga dapat membantu mengasah kemampuan otak anak, mulai dari memahami pola, menghubungkan informasi, hingga meningkatkan kemampuan berpikir fleksibel.
Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Ayoe Sutomo, mengatakan bahwa mempelajari bahasa baru memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar kemampuan berkomunikasi.
Menurutnya, saat anak belajar bahasa baru, mereka juga dilatih untuk mengenali pola, memahami hubungan antar informasi, dan memproses berbagai konsep secara bersamaan.
"Dalam berbagai penelitian, kemampuan-kemampuan ini berkaitan dengan berkembangnya fleksibilitas berpikir yang menjadi pondasi penting dalam proses belajar dan pemecahan masalah sehari-hari," katanya sebagaimana dikutip dalam siaran pers platform belajar bahasa Duolingo yang diterima di Jakarta, Rabu.
Duolingo dalam risetnya juga menjelaskan bahwa proses belajar bahasa secara rutin membuat otak terus bekerja aktif. Otak akan berusaha mengingat informasi, mengenali pola, berpindah dari satu konsep ke konsep lain, serta menyesuaikan diri dengan aturan bahasa yang baru.
Aktivitas tersebut dapat diibaratkan seperti olahraga bagi otak karena membantu menjaga fungsi kognitif tetap terlatih.
Temuan ini juga diperkuat oleh studi yang dilakukan Baycrest dan York University. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang dewasa yang menggunakan aplikasi Duolingo sekitar 30 menit setiap hari selama empat bulan mengalami peningkatan yang dapat diukur pada fungsi eksekutif dan performa kognitif mereka.
Belajar bahasa memang melibatkan banyak fungsi otak sekaligus. Saat mempelajari bahasa baru, seseorang menggunakan daya ingat, perhatian, kemampuan bernalar, hingga keterampilan mengambil keputusan dalam waktu yang bersamaan.
Selain itu, kegiatan seperti menghafal kosakata, memahami konteks percakapan, serta mengenali pola tata bahasa juga menjadi bentuk stimulasi mental yang dapat membantu melatih kemampuan berpikir.
Meski begitu, Ayoe mengingatkan bahwa manfaat tersebut tidak datang secara instan. Dibutuhkan proses belajar yang konsisten agar dampaknya bisa dirasakan dalam jangka panjang.
Tak hanya bermanfaat bagi kemampuan kognitif, menguasai lebih dari satu bahasa juga dapat membuka peluang akademis yang lebih luas bagi anak. Mereka berkesempatan mengenal budaya yang berbeda, memahami beragam perspektif, dan belajar cara berkomunikasi dengan lebih efektif.
Menurut Ayoe, keberhasilan anak dalam mempelajari bahasa baru sangat dipengaruhi oleh konsistensi, frekuensi belajar, serta pengalaman belajar yang menyenangkan.
Di era digital seperti sekarang, berbagai perangkat dan aplikasi pembelajaran dapat menjadi sarana yang membantu anak belajar bahasa dengan lebih menarik. Namun, penggunaan perangkat digital tetap perlu didampingi oleh orang tua agar proses belajar berjalan optimal dan sesuai dengan kebutuhan anak.
Melalui pendekatan yang tepat dan dilakukan secara rutin, belajar bahasa baru bukan hanya menambah kemampuan komunikasi, tetapi juga menjadi investasi penting bagi perkembangan kemampuan berpikir dan kecerdasan anak di masa depan.
Sumber: ANTARA