Istanbul (KABARIN) - Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis, menghapus sebagian kenaikan yang sempat terjadi selama ketegangan konflik di Timur Tengah. Penurunan ini terjadi seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan dan mulai pulihnya arus kapal tanker melalui Selat Hormuz.
Minyak mentah Brent sebagai acuan global turun 1,7 persen ke bawah level 72,50 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate atau WTI ikut melemah 1,4 persen ke kisaran 69,40 dolar AS per barel.
Kondisi ini membuat harga minyak kembali mendekati level sebelum konflik besar di Timur Tengah pada akhir Februari 2026.
Pelaku pasar menilai suplai global mulai membaik setelah jalur pelayaran strategis Selat Hormuz kembali dibuka. Jalur ini sebelumnya sempat terganggu akibat ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.
Laporan dari perusahaan pemantau perdagangan Kpler menyebut lebih dari 20 kapal tanker yang membawa sekitar 35 juta barel minyak mentah telah melintasi Selat Hormuz sejak tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali jalur tersebut.
Sebagian besar kapal yang melintas merupakan tanker non Iran yang sempat tertahan di kawasan Teluk Persia selama lebih dari tiga bulan akibat pembatasan pelayaran di awal konflik.
Minyak yang diangkut diperkirakan mulai tiba di pasar Asia pada awal Agustus, sehingga memunculkan ekspektasi meningkatnya pasokan fisik minyak dalam beberapa pekan ke depan.
Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu jalur energi paling vital di dunia karena menjadi rute utama ekspor minyak dan gas dari negara negara Teluk ke pasar global.
Meski harga minyak turun, risiko geopolitik di kawasan tersebut masih belum sepenuhnya reda.
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC pada Kamis mengeluarkan peringatan bahwa seluruh pelayaran di Selat Hormuz harus mengikuti jalur yang ditetapkan Teheran.
IRGC juga menegaskan bahwa kapal yang melanggar aturan tersebut dapat menghadapi tindakan tegas.
Situasi ini menunjukkan bahwa meski arus kapal tanker mulai kembali normal, stabilitas distribusi energi global masih sangat dipengaruhi dinamika politik dan keamanan di kawasan Teluk.
Sumber: ANAD