Rupiah Menguat ke Rp17.851 per Dolar AS, Dipicu Redanya Ketegangan AS–Iran

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada penutupan perdagangan Senin sore. Mata uang Garuda naik 71 poin atau 0,40 persen menjadi Rp17.851 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.922 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah dipicu sentimen meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

“Rupiah dan mata uang regional maupun utama dunia umumnya menguat terhadap dolar AS merespons laporan bahwa AS dan Iran akan ‘menahan diri untuk sekarang’ dan pembicaraan masih berjalan sesuai rencana,” ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan pasar merespons positif laporan bahwa kedua negara sepakat meredakan eskalasi dan akan melanjutkan pembicaraan terkait sejumlah isu, termasuk dinamika di kawasan Selat Hormuz.

Selain itu, stabilnya harga minyak dunia turut membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Di sisi lain, ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat masih menjadi faktor yang dapat menahan penguatan rupiah ke depan. Sentimen tersebut terkait sikap hawkish Federal Reserve yang masih berpotensi dipertahankan apabila data ekonomi AS menunjukkan hasil kuat.

Untuk pekan ini, investor disebut masih akan bersikap hati-hati sambil menantikan rilis sejumlah data ekonomi penting AS seperti sektor manufaktur dan ketenagakerjaan (Non-Farm Payrolls).

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga tercatat menguat ke level Rp17.956 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.962 per dolar AS.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka