Pasar Jaya Perketat Pantauan Harga Pangan, Cegah Lonjakan Harga

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Perumda Pasar Jaya terus memperkuat pemantauan harga pangan bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan berbagai pemangku kepentingan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga harga kebutuhan pokok tetap stabil, terutama saat permintaan masyarakat meningkat.

Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan mengatakan koordinasi antara Pasar Jaya dan Pemprov DKI Jakarta selama ini berjalan dengan baik, khususnya dalam mengantisipasi kenaikan harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) maupun pada musim-musim tertentu.

"Koordinasi antara Perumda Pasar Jaya dan Pemprov DKI Jakarta dalam mengantisipasi lonjakan harga pangan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) maupun pada musim tertentu berjalan dengan sangat baik," kata Agus Himawan kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Menurut Agus, pemantauan dilakukan secara intensif melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Tim ini bertugas mengantisipasi potensi gejolak harga sejak dini sekaligus memastikan distribusi pangan ke masyarakat tetap lancar.

"Kerja sama ini juga memastikan ketersediaan komoditas pangan strategis menjelang HBKN maupun periode meningkatnya konsumsi masyarakat," ujar Agus.

TPID sendiri melibatkan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sektor pangan, Bank Indonesia, hingga Perum Bulog. Mereka secara rutin memantau perkembangan harga, kondisi pasokan, distribusi pangan, hingga potensi gangguan yang bisa memengaruhi pasar.

Selain melakukan pemantauan, Pasar Jaya bersama seluruh pihak terkait juga menggelar rapat koordinasi setiap pekan untuk mengevaluasi perkembangan di lapangan.

Lewat forum tersebut, berbagai langkah antisipasi bisa segera disiapkan apabila muncul potensi kenaikan harga maupun gangguan pasokan.

"Hasil pembahasan kemudian ditindaklanjuti dengan berbagai langkah pengendalian, seperti penguatan pasokan, penyelenggaraan pasar murah, bazar pangan, operasi pasar, serta berbagai program stabilisasi harga lainnya," jelasnya.

Agus mengungkapkan, lonjakan harga pangan di Jakarta umumnya terjadi karena ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Kondisi ini biasanya muncul menjelang hari raya keagamaan maupun pergantian tahun ketika kebutuhan masyarakat meningkat cukup tajam.

"Biasanya menjelang HBKN dan tahun baru kebutuhan masyarakat terhadap berbagai komoditas pangan mengalami peningkatan yang cukup signifikan," ucap Agus.

Tak hanya itu, perubahan musim dan cuaca ekstrem juga menjadi tantangan tersendiri karena dapat memengaruhi hasil produksi di daerah sentra pangan sekaligus menghambat distribusi menuju Jakarta.

Jika pasokan berkurang, harga berbagai komoditas pun berpotensi ikut naik. Selain faktor tersebut, stabilitas harga pangan juga dipengaruhi kenaikan biaya distribusi akibat harga bahan bakar minyak (BBM), gangguan logistik, hingga perubahan kondisi ekonomi nasional.

Karena itu, Agus berharap sinergi seluruh pihak dalam program stabilisasi harga bisa terus diperkuat agar inflasi pangan tetap terkendali.

"Saya berharap, koordinasi yang kuat dan pemantauan pasar dalam program stabilisasi harga ini dapat menjaga inflasi pangan agar tetap terkendali, sehingga kebutuhan pokok tetap terjamin dan harga terjangkau," kata Agus.

Adapun sejumlah komoditas pangan utama yang menjadi fokus pasokan di Jakarta antara lain beras, telur ayam, gula, aneka sayuran, serta berbagai hasil pertanian lainnya.

Baca juga: Pasar Jaya Perkuat Kerja Sama dengan Daerah Produksi untuk Jaga Pasokan

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka